MENTARI PAGI EDISI 631, RABU 16 DESEMBER 2020

REVIEW IHSG

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa (15/12/2020) melemah tipis sebesar (0.04%), mengakhiri perdagangan kemarin di level 6,010.128. Pada perdagangan kemarin hanya terdapat dua sektor yang mengalami penguatan, sementara sektor lainnya kompak menutup melemah.

Sektor yang mengalami penguatan tertinggi diraih oleh sektor Miscellaneous Industry sebesar (+3,92%) dan disusul oleh sektor Infrastructure, Utilities sebesar (+2.05%). Sementara sektor yang mengalami pelemahan paling dalam terjadi pada sektor Property, Real Estate and Building Construction sedalam (-1.06%) kemudian diikuti oleh sektor Consumer Goods Industry sedalam (-1.05%). Akibatnya, IHSG tidak mampu melanjutkan kenaikannya dan mengalami koreksi. Pada perdagangan kemarin tercatat 22.17 Milyar saham diperdagangkan dengan total nilai transaksi sebesar 17.38 Triliun. Asing pun kini mulai jenuh dengan melakukan aksi jual, sehingga melakukan aksi beli dan mencatatkan pembelian bersih (Net Foreign Buy) sebesar (836.2 Miliar).

Hari ini kami memprediksi bahwa IHSG masih melemah seperti hari sebelumnya. Hal ini disebabkan karena sentimen negatif bagi IHSG muncul dari kabar Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan yang menginstruksikan Gubernur DKI Jakarta untuk kembali memperketat pembatasan sosial berskala besar mulai 18 Desember 2020 hingga 8 Januari 2021.Instruksi ini untuk meredam kenaikan jumlah korban yang terinfeksi virus covid-19. Selanjutnya sentimen negatif juga datang setelah pemerintah memutuskan untuk melarang kerumunan dan perayaan tahun baru di tempat umum.

Jika dilihat dari analisa secara teknikal, dapat dilihat bahwa candlestick hari ini masih berada diatas ketiga indicator yaitu, MA 14 ( Moving Average rerata 14), MA 22 (Moving Average rerata 22), MA 34 (Moving Average rerata 34).

BERITA EKONOMI

Indeks ESG Leader bisa jadi alternatif untuk reksadana indeks maupun ETF

Bursa Efek Indonesia (BEI) meluncurkan indeks baru yakni indeks ESG (Environmental, Social, Governance) Leaders di awal pekan ini. Melalui indeks ini, diharapkan akan mendorong praktik berbasis lingkungan, sosial, dan tata kelola dalam penerapan investasi berkelanjutan di Indonesia.

Dalam penyusunannya, indeks ESG Leader terdiri dari konstituen 30 saham dengan praktik ESG yang baik, tidak terlibat pada kontroversi secara signifikan, memiliki likuiditas transaksi, serta kinerja keuangan yang baik.

“Sebenarnya dari sisi konstituennya, dari sisi saham big cap mirip dengan indeks Sri-Kehati, yang menjadi pembeda dari sisi mid-cap. Kendati begitu, adanya indeks ini tentu menjadi kabar baik karena akan memberikan alternatif bagi investor maupun fund manager,” jelas Wawan kepada Kontan.co.id, Selasa (15/12).\

Menurut HIMA AE, dari segi kinerja, indeks ESG Leader akan bersaing dengan kedua indeks yang sudah ada tersebut. Sementara dari segi minat,  baik penerbit maupun investor akan mempunyai minat yang cukup besar terhadap indeks tersebut. Bukan tidak mungkin, indeks ESG Leader tersebut akan dijadikan produk reksadana indeks maupun Exchange Traded Fund (ETF).

Saat ini pertumbuhan minat investor terhadap reksadana indeks maupun ETF terus membaik. Hal ini sejalan dengan kinerja reksadana indeks maupun ETF yang dalam tiga tahun terakhir mampu mengungguli reksadana konvensional. Pada akhirnya, dengan kinerja yang lebih baik dan risiko terukur, banyak investor yang mulai melirik reksadana indeks dan ETF.

Jika memang investor ada yang tertarik untuk masuk ke reksadana indeks dan ETF, saat ini bisa jadi momen yang tepat. Namun, ia mengingatkan untuk tetap melakukan diversifikasi, mengingat risiko di pasar saham pada tahun depan masih akan ada.

Sumber : Kontan

REKOMENDASI SAHAM

Pada perdagangan Selasa, 15 Desember 2020 PT. Lippo Karawaci Tbk (LPKR) ditutup menguat sebesar +7,83% pada harga Rp 248. Jika dilihat dari Analisis Teknikal pada perdagangan kemarin telah terbentuk konfirmasi dari pola Pennant atau Symmetrical Triangle  yang mengindikasikan adanya potensi penguatan. Hal ini juga didukung oleh indikator Moving Average 20,Moving Average 10, Parabolic Sar dan Volume yang memiliki korelasi positif terhadap penguatan saham tersebut.

Pada perdagangan terakhir harga perusahaan berada tepat diatas Moving Average 25 dan Moving Average 10  mengindikasikan kuat bahwa tren akan lanjut naik.

Kemudian pada indikator Parabolic Sar tepat berada dibawah harga dengan kerenggangan yang cukup lebar menandakan bahwa masih berlangsung kekuatan untuk Bullish Trend.

Indikator-indikator tersebut juga diperkuat dengan Volume perdagangan yang didominasi oleh aksi beli (Buy).

Recommendation: Buy

Target Price     : Rp 262

Stop Loss        : Rp 240

(DISCLAIMER ON)

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *