MENTARI PAGI EDISI 619, JUM’AT 27 NOVEMBER 2020

REVIEW IHSG

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis (26/11/2020) mengalami penguatan signifikan yakni sebesar (+1.420%) sehingga IHSG berada pada level 5,759.917. Pada perdagangan kemarin hamper semua sektor mengalami penguatan akan tetapi terdapat satu sektor yang tidak dapat mengalami penguatan dan melemah tipis.

Sektor Infrastructure, Utilities and Transportations menjadi sektor yang mengalami penguatan paling tinggi pada perdagangan kemarin dengan menguat sebesar (+3.29%) disusul oleh sektor Basic Industry and Chemicals dengan penguatan sebesar (+2.77%). Sementara satu-satunya sektor yang mengalami pelemahan sangat tipis yaitu sektor Agriculture dengan pelemahan sedalam (-0.09%). Pada perdagangan kemarin tercatat sebanyak 26.67 milyar saham diperdagangkan dan menghasilkan total nilai transaksi sebesar 13.29 triliun. Asing kini optimis menghadapi pasar dengan mencatatkan Net Foreign Buy sebesar 593.05 milyar.

Hari ini kami memprediksi bahwa IHSG akan melanjutkan sentimen positifnya. Hal ini disebabkan oleh karena pasar langsung merespons terkait data pertumbuhan ekonomi AS yang menunjukkan hasil positif dan keputusan bank sentral Korea Selatan (Korsel) yang tetap mempertahankan suku bunganya. Kemudian juga masih dengan berita mengenai vaksin viruss COVID-19 yang akan segera diluncurkan pada awal bulan Desember 2020 nanti. Kemudian jika dilihat berdasarkan analisa teknikal terlihat jelas bahwa belum terlihatnya akan terjadinya persilangan death cross sehingga candlestick masih akan terus menguat berdasarkan indikator Moving Average Cross 13 dan 34 (MA Cross 13,34).

BERITA EKONOMI

Turunnya Suku Bunga BI! Pasar Obligasi Indonesia Semakin Dilirik.

Negara-negara masih berupaya untuk memulihkan perekonomiannya, yang berimbas pada likuiditas global yang melimpah. Salah satu penopang pasar obligasi adalah dunia perbankan mencari instrumen aman seiring dengan fungsi intermediary yang belum berjalan optimal.

Dengan industri perbankan sebagai tumpuan di masa pandemi, tingkat imbal hasil obligasi Indonesia pun tetap terjaga. Potensi penguatan yield di Indonesia masih dapat berlanjut hingga tahun depan. Sejauh ini masih banyak investor asing yang belum kembali ke surat utang Indonesia. Hal ini terlihat dari tingkat kepemilikan obligasi yang berada di level 33 persen.

Secara historis, tingkat kepemilikan asing di Indonesia di kisaran 38 persen hingga 40 persen. Para investor asing juga cenderung nyaman di Indonesia, sehingga potensi mereka untuk kembali masih terbuka lebar.

Untuk akhir tahun 2020, memperkirakan yield obligasi Indonesia akan berada di kisaran 6 persen hingga 6,2 persen. Hal tersebut salah satunya didukung oleh rampungnya pemilihan presiden Amerika Serikat. Terpilihnya Joe Biden telah direspon positif oleh pasar dan diyakini akan membawa kebijakan yang lebih akomodatif bagi pasar global, termasuk surat utang Indonesia.

Katalis tersebut, lanjutnya, akan meningkatkan minat investor asing untuk memasuki atau kembali ke obligasi Indonesia. Hal ini terjadi seiring dengan kenaikan permintaan dan likuiditas global yang muncul dari paket stimulus dari Amerika Serikat.

Daya tarik obligasi Indonesia juga didukung oleh peringkat investment grade yang disandang Indonesia. Hal tersebut menandakan ketahanan pasar surat utang Indonesia di tengah pandemi yang menimbulkan ketidakpastian.

Menurut Hima AE, setelah Bank Indonesia kembali menurunkan suku bunga acuan, pasar obligasi Indonesia diyakini akan semakin menarik. Selama terjadinya pandemi, tingkat imbal hasil obligasi Indonesia masih terjaga di level yang atraktif. kembalinya investor asing ke obligasi Indonesia berpotensi memicu pergerakan yield di bawah 6 persen. Namun, hal tersebut perlu didukung oleh kondisi pasar global yang kondusif dan tahan goncangan.

Daya tarik obligasi Indonesia juga didukung oleh peringkat investment grade yang disandang Indonesia. Hal tersebut menandakan ketahanan pasar surat utang Indonesia di tengah pandemi yang menimbulkan ketidakpastian.

Sumber: Kompas Intern ; Market

REKOMENDASI SAHAM

Pada perdagangan Rabu, 26 November 2020 PT. Global Mediacom Tbk (BMTR)ditutup menguat sebesar +6,57% pada harga Rp 292. Jika dilihat dari Analisis Teknikal pada perdagangan kemarin membentuk Bullish Candle  yang mengindikasikan adanya potensi penguatan. Hal ini juga didukung oleh indikator Moving Average 50,Moving Average 25, Parabolic Sar dan Volume yang memiliki korelasi positif terhadap penguatan saham tersebut.

Pada perdagangan terakhir harga perusahaan berada tepat diatas Moving Average 25 yang bersilangan dengan Moving Average 50 yang mengindikasikan tren naik.

Kemudian pada indikator Parabolic Sar tepat berada dibawah harga dengan kerenggangan yang cukup lebar menandakan bahwa masih berlangsung kekuatan untuk Bullish Trend.

Indikator-indikator tersebut juga diperkuat dengan Volume perdagangan yang didominasi oleh aksi beli (Buy).

Recommendation: Buy

Target Price     : Rp 312

Stop Loss        : Rp 280

(DISCLAIMER ON)

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *