MENTARI PAGI EDISI 614, JUM’AT 06 NOVEMBER 2020

REVIEW IHSG

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis (05/11/2020) mengalami penguatan yang cukup tinggi yakni sebesar (+3.03%) sehingga IHSG berada di zona hijaunya pada level 5260.326. Seluruh sektor kompak mengalami penghijauan tanpa terkecuali.

Perdagangan kemarin Bursa Tanah Air diramaikan dengan aksi beli secara berbondong-bondong. Sektor Infrastructure, Utilities and Real Estate menjadi sektor dengan penguatan paling unggul diantara sektor lainnya yakni sebesar (+4.67%) diiringi dengan penguatan pada sektor Finance sebesar  (+4.31%). Tercatat sebanyak 14.643 milyar saham diperdagangkan dan menghasilkan total nilai transaksi sebesar 9.902 triliun. Asing pun turut meramaikan Bursa Tanah Air dengan melakukan aksi beli sehingga menghasilkan Net Foreign Buy sebesar 711.04 milyar.

Hari ini kami memprediksi bahwa IHSG akan mengalami penguatan dikarenakan pasar masih melanjutkan sentimen positifnya. Melalui hasil perhitungan cepat pemilu Presiden AS, hasil sementara menunjukkan bahwa Joe Biden mengungguli lawannya Donald Trump. Kemenangan Joe Biden akan berdampak positif bagi negara-negara emerging market, sebab perang dagang AS-dengan China kemungkinan akan berakhir. Selain itu Biden juga berencana menaikkan pajak korporasi serta stimulus fiskal yang lebih besar, sehingga ada potensi capital inflow ke negara emerging market seperti Indonesia. Jika dilihat dari sisi teknikalnya pun, perdagangan kemarin membentuk candlestick marubozu putih yang tinggi sehingga menunjukkan trend akan bullish. Candlestick pun jauh diatas Middle Bollinger Bands dan Exponential Moving Average 14 (EMA14).

BERITA EKONOMI

RI Resmi Resesi, Asosiasi Emiten: Tak Perlu Khawatir!

Asosiasi Emiten Indonesia (AE) menilai pelaku bisnis tidak perlu mengkhawatirkan terjadinya resesi ekonomi di dalam negeri saat ini. Pasalnya, pelemahan ekonomi saat ini tidak hanya terjadi di dalam negeri, melainkan juga terjadi secara global.

“Justru dengan adanya kontraksi ini, maka negara-negara besar melakukan stimulus ekonomi dalam jumlah yang sangat besar sejak pandemi hingga saat ini tercatat sudah lebih dari US$ 10 triliun stimulus yang dikeluarkan oleh negara-negara besar seperti AS, Eropa, Jepang dan China,” kata Iwan kepada CNBC Indonesia, Kamis (5/11/2020).

Bos PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) atau Sritex ini mengatakan, stimulus dengan nilai besar ini dinilai bisa dimanfaatkan bagi perusahaan-perusahaan yang mengalami kesulitan likuiditas akibat pandemi sehingga keuangan perusahaan kembali membaik.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan PDB Indonesia pada kuartal III-2020 mengalami kontraksi atau tumbuh negatif 3,49% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/YoY). Ini menjadi kontraksi kedua setelah kuartal sebelumnya output ekonomi tumbuh negatif 5,32% YoY. Indonesia sah masuk jurang resesi untuk kali pertama sejak 1999.

Menurut HIMA AE, Kondisi ini bisa dimanfaatkan oleh pelaku bisnis untuk melakukan ekspansi dan menyerap tenaga kerja baru. Bahkan, kondisi ekonomi saat ini dinilai bisa menjadi peluang pertumbuhan bagi korporasi jika mampu menyesuaikan dengan kondisi yang ada.

Adanya stimulus ini berdampak pada naiknya posisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dari posisi 1.112 hingga pada tahun lalu bisa mencapai posisi 6.000.

Perekonomian di berbagai negara pada triwulan III lebih baik dibandingkan dengan triwulan II. Namun masih ada kendala karena tingginya kasus Covid-19. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi dalam triwulan-triwulan mendatang. Perekonomian beberapa negara mitra dagang Indonesia pada triwulan III masih terkontraksi, tetapi tidak sedalam triwulan II

Sumber : CNBC

REKOMENDASI SAHAM

Pada perdagangan Kamis, 05 November 2020 PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) ditutup menguat sebesar +9,04% pada harga Rp 9.950. Jika dilihat dari Analisis Teknikal pada perdagangan kemarin membentuk Candle Long White Body yang mengindikasikan adanya potensi penguatan. Hal ini juga didukung oleh indikator MACD, Stochastic dan Volume MA (20) yang memiliki korelasi positif terhadap penguatan saham tersebut.

Dari indikator MACD dapat dilihat bahwa terdapat potensi untuk bullish dan sinyal beli pada saham SMGR. Hal ini dikarenakan pergerakan garis MACD yang memotong garis Signal dari bawah ke atas (golden cross). Sama halnya dengan indikator Stochastic yang juga menunjukkan sinyal positif untuk entry, dimana garis %K memotong %D dari bawah ke atas (golden cross) di area bawah 50%.

Indikator-indikator di atas juga diperkuat dengan Volume perdagangan yang didominasi oleh aksi beli (Buy). Selain itu, level Volume perdagangan kemarin berada di atas rata-rata pergerakan volume selama 20 hari (Volume MA20).

Recommendation: Buy

Target Price    : Rp 10.450

Stop Loss        : Rp 9.750

 

(DISCLAIMER ON)

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *