MENTARI PAGI EDISI 605, RABU 21 OKTOBER 2020

REVIEW IHSG

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa (20/10/2020) mengalami pelemahan sebesar (-0.517%) sehingga mengakhiri pada perdagangan kemarin di level 5,099.840. Pada perdagangan kemarin hanya terdapat 2 sektor yang mengalami penguatan, dan sisa sektor lainnya menutup melemah.

Pada perdagangan kemarin, terdapat sektor yang mengalami penguatan cukup besar yaitu sektor Miscellaneous Industry yang mengalami penguatan cukup besar yakni (+2.40%). Kemudian dilanjut sektor yang menguat tipis yaitu sektor Basic Industry and Chemicals sebesar (+0.27%). Selanjutnya adalah sektor yang mengalami pelemahan paling dalam yakni sektor Property, Real Estate and Building Construction sedalam (-1.91%), kemudian dilanjut oleh sektor Consumer Goods Industry sedalam (-1.29%). Dikarenakan pada perdagangan kemarin terdapat 8 sektor yang mengalami pelemahan, sehingga membuat IHSG melemah dan mengalami penurunan sebesar (-26.490) kemudian mengalami koreksi. Pada perdagangan kemarin tercatat sebanyak 10.26 milyar saham diperdagangkan dengan total nilai transaksi sebesar 9.23 triliun. Kemudian, Asing banyak yang melakukan aksi jualnya sehingga memperoleh Net Foreign Sell sebesar (-168.56) Milyar.

Hari ini kami memprediksi bahwa IHSG bergerak cenderung mixed menguat dikarenakan oleh Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka naik pada perdagangan Selasa (20/10/2020), didorong ekspektasi stimulus AS akan segera ditekan meski dibayangi kenaikan angka infeksi Covid-19. Indeks Dow Jones Industrial Average naik 125 poin (+0,4%) pukul 08:30 waktu setempat (20:30 WIB) dan selang 10 menit kemudian bertambah menjadi 177 poin (+0,6%) ke 28.359,87 dan S&P 500 naik 21 poin (+0,6%) ke 3.448,36. Nasdaq melonjak 61,8 poin (+0,5%) ke 11.540,71. Hal tersebut terjadi karena dengan beredarnya kabar negosiasi stimulus. Negosiasi stimulus menghadapi jalan buntu berbulan-bulan setelah berakhirnya masa berlaku Undang-Undang (UU) stimulus pertama pada Juli. Sejak itu, pertumbuhan lapangan kerja melambat tetap belanja konsumen membaik. Namun, beberapa indikator menunjukkan dampak stimulus pertama mulai pudar dan perlu ada paket stimulus selanjutnya. Sehingga tidak menutup kemungkinan dengan adanya berita tersebut akan berdampak cukup baik untuk pergerakan IHSG pada hari ini.

Sementara jika dilihat dari Analisa teknikal, sudah terlihat jelas bahwa telah terjadinya persilangan Golden Cross sehingga kemungkinannya IHSG akan mengalami penguatan. Hal ini nampak pada Indicator Moving Average rerata tiga belas hari (MA13) dan tiga puluh empat hari (MA34).

BERITA EKONOMI

TERTEKAN! Reksa Dana Indeks dan Exchange Traded Fund Masih Prospektif

Kendati kinerja reksa dana indeks dan exchange trade fund (ETF) sepanjang tahun berjalan mencatatkan hasil negatif, minat terhadap kedua reksa dana ini dinilai masih tinggi.

Berdasarkan data Infovesta Utama, dari 44 produk ETF berbasis saham dan 32 reksa dana indeks yang terdaftar seluruhnya kompak mencatatkan kinerja negatif sepanjang tahun berjalan.

Sebagai perbandingan, indeks harga saham gabungan (IHSG) telah terkoreksi 18,62 persen sepanjang tahun berjalan (year to date) hingga 19 Oktober 2020. Begitu pula dengan indeks LQ45 dan indeks IDX30 yang masing-masing tercatat turun 22,08 persen dan 22,52 persen.
Head of Market Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan kinerja reksa dana indeks dan ETF memang bergantung pada indeks acuan, sehingga ketika pasar terkoreksi kinerja kedua jenis reksa dana itu pun pasti ikut melemah.
Meskipun demikian, dia menyebut reksa dana indeks dan ETF masih prospektif karena memiliki potensi rebound lebih tinggi jika pasar pulih sepenuhnya. Pasalnya, mayoritas reksa dana indeks dan ETF pasti memiliki saham-saham jagoan dalam portofolionya.

Di sisi lain, Wawan menilai minat terhadap kedua reksa dana ini masih tinggi, terbukti dari kenaikan unit penyertaan reksa dana indeks dan ETF hingga akhir kuartal III/2020 dibanding periode akhir tahun lalu.

Per akhir September 2020, unit penyertaan reksa dana indeks tercatat 8,2 miliar unit sedangkan per akhir September menjadi 9,8 miliar. Kemudian, unit penyertaan ETF naik dari 19 miliar pada Desember 2020 menjadi 22,4 miliar pada akhir September 2020.

Menurut Hima AE, Meskipun demikian, reksa dana indeks dan ETF masih prospektif karena memiliki potensi rebound lebih tinggi jika pasar pulih sepenuhnya. Pasalnya, mayoritas reksa dana indeks dan ETF pasti memiliki saham-saham jagoan dalam portofolionya. akan kurang. Biiasanya ketika pasar rebound yang menggerakkan itu saham-saham blue chip, saham-saham big caps. Dan biasanya saham-saham itu pasti top ten di ETF dan indeks. Rata-rata pasti underperform IHSG karena hampir semua indeks turun lebih jauh. Apalagi kalau reksa dana indeks kita memilih hanya sebagian saham saja jadi diversifikasinya akan kurang.

REKOMENDASI SAHAM

Pada perdagangan Selasa, 20 Oktober 2020 PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) ditutup menguat sebesar +3,27% pada harga Rp 9475. Jika dilihat dari Analisis Teknikal pada perdagangan kemarin membentuk Candle Long White Body yang mengindikasikan adanya potensi penguatan. Hal ini juga didukung oleh indikator Sthocastic, MACD, dan Volume yang memiliki korelasi positif terhadap penguatan saham tersebut.

Pada perdagangan terakhir harga perusahaan tercipta Golden Cross pada indikator MACD yang mengindikasikan Bullish Reversal.

Begitupun dengan indikator Sthocastic. Telah terjadi Golden Cross yang tentunya memiliki indikasi untuk pembalikan arah terhadap tren naik (Short Term).

Indikator-indikator tersebut juga diperkuat dengan Volume perdagangan yang didominasi oleh aksi beli (Buy).

Recommendation: Buy
Target Price : Rp 9990
Stop Loss : Rp 9155

(DISCLAIMER ON)

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *