MENTARI PAGI EDISI 603, SENIN 19 OKTOBER 2020

REVIEW IHSG

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Jumat (16/10/2020) mengalami pelemahan sebesar (-0.034%) ; mengakhiri perdagangan kemarin di level 5,103.414. Pada perdagangan kemarin terdapat 3 sektor yang mengalami pelemahan, dan sisa sektor lainnya menutup menguat.

Pada perdagangan kemarin, terdapat 3 sektor yang mengalami penguatan cukup besar. Sektor yang mengalami penguatan paling besar yang pertama berasal dari sektor Miscellaneous Industry yang mengalami penguatan paling besar yakni (+2.89%). Kemudian sektor yang menguat tipis adalah sektor Mining sebesar (+0.75%). Dan sektor yang mengalami penguatan tipis selanjutnya yaitu Manufacturing sebesar (+0.68%). Selanjutnya adalah sektor yang mengalami pelemahan paling dalam yakni sektor Finance sedalam (-0.67%), kemudian dilanjut oleh sektor Trade, Service and Investment sedalam (-0.46%). Meskipun pada perdagangan kemarin terdapat 7 sektor yang mengalami penguatan, akan tetapi masih tidak mampu membuat IHSG menguat dan mengalami penurunan sebesar (-1.736) sehingga mengalami koreksi dari hari-hari sebelumnya. Pada perdagangan kemarin tercatat sebanyak 10.43 milyar saham diperdagangkan dengan total nilai transaksi sebesar 7.76 triliun. Kemudian, Asing melakukan aksi jualnya sehingga memperoleh Net Foreign Sell sebesar (-493.87) Milyar.

Hari ini kami memprediksi bahwa IHSG bergerak cenderung mixed menguat dikarenakan oleh kinerja rupiah pekan ini cukup impresif. Tidak hanya dolar Amerika Serikat (AS), rupiah mampu melibat mayoritas mata uang Asia hingga Eropa.

Sepanjang pekan ini, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS menguat tipis 0,03% di perdagangan pasar spot. Dolar AS berada di bawah Rp 14.700.

Meski hanya menguat tipis, tetapi kinerja rupiah cukup baik. Sebab, sebagian besar mata uang utama Asia terdepresiasi di hadapan greenback.

Sementara jika dilihat dari Analisa teknikal, menunjukkan tanda-tanda akan terjadinya persilangan Golden Cross sehingga kemungkinannya IHSG akan mengalami penguatan. Hal ini nampak pada Indicator Moving Average rerata tiga belas hari (MA13) dan tiga puluh empat hari (MA34).

BERITA EKONOMI

Anjlok , Nasib Batu Bara Semakin ‘Hitam Legam’

Harga batu bara anjlok sepanjang pekan ini. China menjadi penyebab penurunan harga si batu hitam.

Minggu ini, harga batu bara acuan di pasar ICE Newcastle untuk kontrak yang berakhir 27 November 2020 ambles 1,54%. Meski harga sempat naik tiga hari beruntun, tetapi tidak bisa menutup koreksi secara mingguan. Penurunan permintaan dari China membuat harga komoditas ini terkoreksi. Sejak Juli hingga September, impor batu bara China terus menurun dan sepertinya akan berlanjut hingga Oktober.

China adalah negara importir batu bara terbesar ketiga di dunia. Tahun lalu, nilai impor batu bara China mencapai US$ 18,9 milar. Hanya kalah dari Jepang (US$ 23,3 miliar) dan India (US$ 23 miliar).

Negeri Tirai Bambu memang sedang menggalakkan produksi batu bara dalam negeri. Per Agustus 2020, produksi batu bara Shehua Energy tercatat 23,9 juta ton, naik 2,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara produksi China Coal Energy naik 9,3% menjadi 9,8 juta ton.

Penurunan harga batu bara berdampak negatif terhadap kinerja ekspor Indonesia. Maklum, batu bara (dan minyak sawit mentah/CPO) adalah komoditas ekspor andalan.

Pada September 2020, nilai ekspor produk pertambangan tercatat US$ 1,33 miliar, anjlok 35,97% secara tahunan. Sepanjang Januari-September 2020, nilainya adalah US$ 14,07% atau jatuh 23,96%.

Akibat kinerja buruk ekspor pertambangan, ekspor Indonesia secara keseluruhan masih saja mengalami pertumbuhan negatif (kontraksi). Pada September, ekspor Indonesia terkontraksi 0,51% dan secara kumulatif Januari-September negatif 5,81%

Menurut Hima AE, Penurunan harga batu bara juga tak terlepas dari fundamental pasar yang rapuh baik dari sisi permintaan maupun pasokan. Dari sisi demand, potensi penurunan permintaan batu bara impor lintas laut (seaborne) dari India membuat harga tertekan.

Perusahaan listrik BUMN asal India yakni NTPC dikabarkan tak akan mengimpor batu bara mengingat konsumsi listrik di negara pengimpor batu bara terbesar setelah China itu drop akibat merebaknya pandemi Covid-19.

Di sisi lain China juga kemungkinan akan membatasi impor batu baranya mengingat mulai ada penurunan harga batu bara domestik. Sebagai dua negara konsumen batu bara terbesar di dunia, penurunan permintaan asal negara-negara ini jelas menjadi tekanan tersendiri untuk harga si batu hitam.

Sumber: CNBC

REKOMENDASI SAHAM

Pada perdagangan Jumat, 17 Oktober 2020 PT. Bukit Asam Tbk (PTBA) ditutup menguat sebesar +1,99% pada harga Rp 2050. Jika dilihat dari Analisis Teknikal pada perdagangan kemarin membentuk Bullish Candle yang mengindikasikan adanya potensi penguatan. Hal ini juga didukung oleh indikator Moving Average 10, Parabolic Sar, dan Volume yang memiliki korelasi positif terhadap penguatan saham tersebut.

Pada perdagangan terakhir harga perusahaan berada tepat diatas Parabolic sar yang mengindikasikan akan terjadinya tren naik.

Sama halnya, dengan indikator Moving Average 10. Harga berada tepat diatasnya yang memberi sinyal akan terjadinya Bullish Tren.

Indikator-indikator tersebut juga diperkuat dengan Volume perdagangan yang didominasi oleh aksi beli (Buy).

Recommendation: Buy

Target Price     : Rp 2110

Stop Loss        : Rp 2020

 

(DISCLAIMER ON)

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *