MENTARI PAGI EDISI EDISI 594, 6 OKTOBER 2020

REVIEW IHSG

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin (05/10/2020) ditutup menguat sebesar (+0.65%). Pada pembukaan minggu ini, IHSG diawali dengan menghijau pada level 4,958.769. Perdagangan kemarin mencatatkan 5 sektor saham yang mengalami penguatan, sementara 5 lainnya mengalami pelemahan.

            Sektor Consumer Goods Industry menjadi saham dengan penguatan tertinggi yakni sebesar (+1.33%) diikuti sektor Finance yang mengekor dengan penguatan sebesar (+1.19%). Sementara, sektor pemberat pada perdagangan kemarin terjadi pada sektor Miscellaneous Industry dengan pelemahan sebesar (-0.57%). Pada perdagangan kemarin, tercatat sebanyak 8.860 milyar saham diperdagangkan dan mencatatkan transaksi secara keseluruhan sebesar 5.781 triliun. Asing pun sudah jenuh melakukan aksi jualnya hingga berbalik melakukan aksi beli yang kuat dan mencatatkan Net Foreign Buy pada seluruh pasar sebesar 35.60 milyar.

            Hari ini kami memprediksi bahwa IHSG akan bergerak mixed cenderung melemah. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor yang berkemungkinan menjadi alasan terjadinya sentiment negatif pada pasar modal. Faktor dari luar antara lain terkait kampanye pemilu presiden AS, yakni kabar mengenai Presiden Donald Trump beserta istrinya yang positif Covid-19. Sementara dari dalam negeri, faktor investor tertuju pada Rancangan Undang Undang Cipta Kerja atau Omnibus Law serta Resesi yang melanda Tanah Air. Sehingga diprediksi bahwa IHSG berkecenderungan menghadapi sideways pada minggu ini. Namun, jika dilihat dari sisi teknikal, terlihat jelas bahwa Stochastic Oscillator merangkak naik menuju level 50 menunjukkan kemungkinan adanya kekuatan pasar untuk bergerak naik. Sementara itu, Exponential Moving Average (EMA) dengan rerata 14 dan 5 belum terjadi persilangan atau golden crossing. IHSG pun masih berada dalam trend penurunan.

BERITA EKONOMI

Sentimen RUU Ciptaker Warnai Perekonomian Indonesia

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Rosan P. Roeslani memberikan apresiasi kepada Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang telah menyepakati pengesahan RUU Cipta Kerja untuk menjadi Undang-Undang (UU) melalui Rapat Paripurna yang dilaksanakan pada hari ini, Senin (5/10/2020). Pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Omnibus Law Cipta Kerja (Ciptaker) membawa angin segar bagi dunia usaha lantaran memang sudah ditunggu-tunggu para pengusaha sejak lama.

Penciptaan lapangan kerja harus dilakukan, yakni dengan mendorong peningkatan investasi sebesar 6,6-7% untuk membangun usaha baru atau mengembangkan usaha eksisting, yang pada akhirnya akan mendorong peningkatan konsumsi di kisaran 5,4-5,6%.

Meski demikian, RUU ini ditentang oleh banyak pihak, salah satunya adalah Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI).  Bahkan, KSPI mengklaim sebanyak dua juta buruh sudah terkonfirmasi akan melakukan mogok kerja nasional yang berlokasi di lingkungan perusahaan masing-masing.

UU ini memang akan membawa dampak yang cukup besar bagi perekonomian nasional. Sebab, RUU ini menyentuh hampir seluruh aspek dunia usaha mulai dari perizinan, investasi, ketenagakerjaan, perpajakan, hingga sektor UMKM.

Secara umum, Anggaraksa memandang  RUU ini tentu dibuat dengan tujuan yang baik, yaitu memajukan iklim investasi di Indonesia yang pada akhirnya diharapkan akan mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja.

 

Menurut Hima AE, Pergerakan pasar saham bakal dibayangi oleh sentimen pengesahan rancangan undang-undang Cipta Kerja dan perkembangan kasus Covid-19. Kejelasan terkait RUU tentunya dapat memberikan penilaian bagi pelaku pasar yang pada akhirnya akan berdampak pada iklim investasi.

Omnibus Law sendiri merupakan ‘UU sapu jagat’ yang meliputi berbagai topik. Dampak omnibus law terhadap IHSG bak pisau bermata dua. Di satu sisi, omnibus law akan memberikan dorongan bagi pelaku usaha agar berinvestasi.

Tetapi di sisi lain, polemik yang muncul seperti ancaman mogok kerja nasional dapat berpotensi cukup serius di tengah situasi ekonomi yang dalam kondisi resesi, dapat berpotensi sentimen negative.

 

Sumber: CNBC, Kompas

 

REKOMENDASI SAHAM

Pada perdagangan Senin, 05 Oktober 2020 PT. H.M. Sampoerna Tbk (HMSP) ditutup menguat sebesar +4,63% pada harga Rp 1.470. Jika dilihat dari Analisis Teknikal pada perdagangan kemarin membentuk Candle Long White Body yang mengindikasikan adanya potensi penguatan. Hal ini juga didukung oleh indikator MA5, Stochastic, dan Volume MA(20) yang memiliki korelasi positif terhadap penguatan saham tersebut.

Pada perdagangan terakhir dapat dilihat bahwa pergerakan harga saham HMSP berhasil mem-breakout garis MA5. Hal tersebut mengindikasikan adanya potensi pembalikan arah (reversal) dari bearish trend menjadi bullish trend pada saham HMSP.

Sama halnya dengan indikator Stochastic yang juga menunjukkan sinyal positif untuk entry dari pergerakan harga saham HMSP. Dimana garis %K memotong %D dari bawah ke atas (golden cross), yang dimana momen persilangan ini terjadi di area jenuh jual (oversold).

Indikator-indikator di atas juga diperkuat dengan Volume perdagangan yang didominasi oleh aksi beli (Buy). Selain itu, level Volume perdagangan kemarin berada di atas rata-rata pergerakan volume selama 20 hari (Volume MA20).

Recommendation: Buy

Target Price     : Rp 1.560

Stop Loss        : Rp 1.425

 

(DISCLAIMER ON)

 

 

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *