MENTARI PAGI EDISI 593, 5 OKTOBER 2020

REVIEW IHSG

 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Jumat (02/10/2020) mengalami pelemahan sebesar (-0.87%) ; mengakhiri perdagangan kemarin di level 4,926.734. Pada perdagangan kemarin hanya terdapat satu sektor yang mengalami penguatan, dan sisa sektor lainnya mengalami pelemahan hingga penutupan.

Pada perdagangan kemarin, hanya terdapat satu sektor yang mengalami penguatan walaupun hanya menguat tipis, yaitu sektor Basic Industry and Chemicals yang mengalami penguatan paling besar yakni (-0.31%). Kemudian  adalah sektor yang mengalami pelemahan paling dalam yakni sektor Infrastructure, Utilities and Transportation  sedalam (-2.25%), kemudian dilanjut oleh sektor Agriculture sedalam (-1.24%). Dik

arenakan pada perdagangan kemarin hanya terdapat satu sektor yang mengalami penguatan maka, IHSG kemarin masih tidak mampu menguat dan mengalami penurunan yang cukup besar, yaitu (-43.360) sehingga masih mengalami koreksi. Pada perdagangan kemarin tercatat sebanyak 9.968 milyar saham diperdagangkan dengan total nilai transaksi sebesar 6.152 triliun. Kemudian, Asing melakukan aksi jualnya sehingga memperoleh Net Foreign Sell sebesar 51.36 milyar.

Hari ini kami memprediksi bahwa IHSG masih akan tetap mengalami penurunan karena tren penambahan kasus penyakit akibat virus corona (Covid-19) yang terus menanjak hingga saat ini, memberikan terkanan bagi rupiah. Bahkan, penambahan kasus perharinya masih cenderung tinggi.Akibat tren penambahan kasus yang masih menanjak, kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) terus berlangsung dibeberapa wilayah di Indonesia. Di DKI Jakarta, sebagai pusat perekonomian Indonesia bahkan kembali menerapkan PSBB yang lebih ketat dalam tiga pekan terakhir.Alhasil, roda bisnis berputar dengan lambat, dan perekonomian Indonesia pasti mengalami resesi di kuartal III, hanya seberapa dalamnya yang masih menjadi misteri.

Di kuartal II-2020 lalu, perekonomian Indonesia minus 5,32% year-on-year (YoY).Perekonomian Indonesia terancam gagal bangkit di kuartal IV-2020 jika tren penambahan kasus Covid-19 belum mampu diredam, dan PSBB yang ketat terus berlangsung.Hal tersebut membuat pelaku pasar saat ini mengambil posisi short (jual) terhadap rupiah.

Kemudian berdasarkan dari Analisa teknikal, menunjukkan belum ada tanda-tanda bahwa IHSG akan mengalami penguatan. Hal ini nampak pada Indicator Moving Average rerata lima hari (MA5) dan dua puluh hari (MA20) karena belum terlihatnya akan terjadi persilangan Golden Cross.

BERITA EKONOMI

Harga batu bara kembali membukukan penguatan di pekan ini, menembus level US$ 60/ton untuk pertama kalinya dalam 5 bulan terakhir. Pasokan batu bara yang mengetat di China menjadi pemicu utama penguatan harga batu bara.

Melansir data Refinitiv, harga batu bara termal Newcastle di pekan ini menguat 3,5% ke US$ 60,85/ton. Bahkan, di hari Kamis lalu sempat menyentuh US$ 62,55/ton yang merupakan level tertinggi sejak 3 April lalu.

Harga batu bara mulai meroket sejak 8 September lalu, jika ditotal hingga Jumat (2/10/2020) kenaikannya nyaris 22%.

Ketatnya pasokan batu bara China membuat harganya melonjak tinggi. Pada pekan terakhir bulan September harga batu bara patokan domestiknya yaitu Qinhuangdao untuk kalori 5.500 Kcal/Kg dibanderol RMB 599/ton atau US$ 87,91/ton.

Akibat harga tinggi tersebut, minat impor batu bara lintas laut (seaborne) menjadi meningkat karena harganya lebih murah. Harga batu bara termal Newcastle yang naik 3,5% di pekan ini saja masih jauh lebih murah.

Kenaikan harga batu bara termal Newcastle turut mengerek harga batu bara lain termasuk harga batu bara acuan (HBA) Tanah Air.

HBA RI bulan Oktober naik 3,2% menjadi US$ 51 per ton dari HBA pada September 2020 yang sebesar US$ 49,42 per ton. HBA sendiri diperoleh dari rata-rata indeks Indonesia Coal Index (ICI), Newcastle Export Index (NEX), Globalcoal Newcastle Index (GCNC), dan Platts 5900 pada bulan sebelumnya.

Menurut Hima AE, sinyal positif industry yang mulai bangkit di china dan jepang akan berdapkan positif pada kenaikan HBA oktober 2020. Setelah sempat turun di bulan September menjadi 49,42 dolar per ton, bulan ini HBA ditetapkan sebesar 51,00 dolae AS per ton. Mulai pulihnya industry baja dan otomotif jepang ikut meningkatkan permintaan batubara global. Sentimen bullish juga muncul dari India. Melaporkan kenaikan aktivitas industri terutama di wilayah Barat India membuat output pembangkit listrik berbahan bakar batu bara India meningkat 9,4% pada paruh pertama bulan September.

Sumber: cnbc

REKOMENDASI SAHAM

Pada perdagangan Jumat, 02 September 2020 PT. Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) ditutup menguat sebesar +4% pada harga Rp 1.690. Jika dilihat dari Analisis Teknikal pada perdagangan kemarin membentuk Candle long White Body yang mengindikasikan adanya potensi penguatan. Hal ini juga didukung oleh indikator EMA 25, MACD dan Volume yang memiliki korelasi positif terhadap penguatan saham tersebut.

Pada perdagangan terakhir harga perusahaan berada tepat diatas EMA 25 yang mengindikasikan akan terjadinya tren naik.

Pada indikator MACD terlihat telah terjadi Golden Cross yang menandakan akan terjadinya Bullish Reversal.

Indikator-indikator tersebut juga diperkuat dengan Volume perdagangan yang didominasi oleh aksi beli (Buy).

Recommendation: Buy

Target Price     : Rp 1.775

Stop Loss        : Rp 1.630

 

(DISCLAIMER ON)

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *