MENTARI PAGI EDISI 586, KAMIS 24 SEPTEMBER 2020

REVIEW IHSG

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu (23/09/2020) melemah sebesar -0.32% ; mengakhiri perdagangan kemarin di level 4917.955. Terdapat dua sektor yang mengalami penguatan sementara sektor lainnya mengalami penurunan yang menyebabkan IHSG kembali melemah dari perdagangan sebelumnya.

Sektor Infrastructure, Utilities and Transportation mengalami penguatan sebesar (+0.13%) diiringi dengan sektor Trade, Service, and Investment yang turut menghijau sebesar (0.08%). Sementara, sektor Micellaneous Industry mengalami pelemahan sebesar (-0.96%) disusul dengan sektor Agriculture yang turut melemah sebesar (-0.86%) dan sektor lainnya yang ikut terluka pada perdagangan kemarin. Pada perdagangan kemarin sebanyak 8.811 milyar saham diperdagangankan dengan nilai transaksi sebesar 6.998 triliun. Sementara itu, asing pun berlarian dari perdagangan kemarin dan menghasilkan Net Foreign Sell sebesar 233.84 milyar.

Kami memprediksi IHSG akan mengalami penguatan walau tidak seberapa. Penguatan Wall Street dan FTSE 500 bisa menjadi inspirasi bagi IHSG untuk menguat, lupakan resesi karena memang susah untuk dihindari. Yang terpenting adalah bagaimana perekonomian bisa segera bangkit lagi setelah terpuruk, jangan sampai resesi berlarut-larut. Eropa akan dilaporkan purchasing managers’ index (PMI) manufaktur dan jasa dari Eropa. Jika sektor manufaktur masih mempertahankan ekspansi, atau bahkan meningkat lagi, tentunya akan menambah sentimen positif di pasar. Sementara itu, jika dilihat dari sisi teknikal, terlihat bahwa terjadi GAP harga pada perdagangan sebelumnya yang memungkinkan terjadinya pantulan untuk perdagangan hari ini. Walaupun EMA14 (Exponential Moving Average dengan rerata 14) masih berada diatas dan menunjukkan trend turun, namun diharapkan IHSG dapat membalikkan posisinya. Selain itu, Stochastic Oscillator telah berada pada level 20 yang berkemungkinan terjadi oversold atau jenuh jual yang artinya pasar sudah diperkirakan akan mengalami penguatan walau tidak seberapa.

BERITA EKONOMI

Cuan Disaat rupiah melemah

Nilai tukar rupiah melemah melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (23/9/2020), melanjutkan kinerja negatif kemarin saat mengakhiri penguatan 5 hari beruntun. Dolar AS memang sedang perkasa pada hari ini, dampaknya mata uang utama Asia berguguran. Melansir data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan hari ini stagnan di level Rp 14.750/US$, tetapi tidak lama langsung masuk ke zona merah. Depresiasi rupiah bertambah hingga 0,37% ke Rp 14.805/US$.

Posisi rupiah membaik, di penutupan perdagangan berada di level Rp 14.780/US$ atau melemah 0,2% di pasar spot. Kemarin Mata Uang Garuda membukukan pelemahan yang lebih besar, 0,41% dan menjadi yang terburuk di Asia. Hari ini, rupiah lepas dari status tersebut. Hingga pukul 15:10 WIB, ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di Asia hari ini dengan pelemahan 0,44%. Baht Thailand berada di posisi terburuk kedua, disusul dolar Taiwan. Menteri Keuangan Sri Mulyani kemarin memberikan proyeksi terbaru pertumbuhan ekonomi kuartal III-2020. Tetapi proyeksi tersebut lebih buruk dari sebelumnya. “Kemenkeu yang tadinya melihat ekonomi kuartal III minus 1,1% hingga positif 0,2%, dan yang terbaru per September 2020 ini minus 2,9% sampai minus 1,0%. Negatif teritori pada kuartal III ini akan berlangsung di kuartal IV. Namun kita usahakan dekati nol,” kata Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN Kita September, Selasa (22/9/2020).

Sri Mulyani mengatakan Kemenkeu memprediksi perekonomian di kuartal III-2020 minus 2,9% sampai minus 1,0%. Melihat prediksi tersebut, resesi pasti terjadi di Indonesia, dan menjadi yang pertama sejak tahun 1999.

Menurut Hima AE, Mata uang Rupiah tengah mengalami tekanan sentimen covid-19 hingga kondisi perekonomian RI dan mendorong investor asing untuk menarik dananya dari pasar modal sehingga menyebabkan pelemahan pada indeks dan nilai tukar Rupiah. Rupiah melemah juga membuat foreign investor takut sehingga mereka kembali massive melakukan net sales untuk pasar Indonesia.  Pelemahan rupiah tentu tak selalu mendatangkan kerugian kepada para emiten. Ada beberapa sektor yg bisa dijadikan watchlist dalam beberapa waktu dekat, yaitu Consumer goods, Semen, dan komoditas seperti CPO, nikel, timah Pada sector consumer goods sentimennya stimulus fiskal daripada pemerintah salah satunya subsidi gajian Rp.600.000 /bulan dan WFH membuat sektor ini seperti mie instan mengalami improvement demand.

Semen salah satu emiten yang bisa digunakan untuk memonetize recovery budget infrastruktur di tahun 2021 serta recovery permintaan properti di tahun 2021 mendatang. Kemudain pada komoditas dimana pekan ini harga CPO masih mengalami kenaikan sehingga saham bersangkutan akan diuntungkan dan faktor pelemahan rupiah juga akan menguntungkan  saham tersebut. Harga timah sedang upside dan perusahaan timah akan diuntungkan dengan pelemahan rupiah. Kenaikan demand atas baja juga pengaruh terhadap nikel trennya akan naik.

Sumber : CNBC, MA Super Stock

REKOMENDASI SAHAM

Pada perdagangan Rabu, 23 September 2020 PT. Mayora Indah Tbk (MYOR) ditutup menguat sebesar +3,43% pada harga Rp 2.410. Jika dilihat dari Analisis Teknikal pada perdagangan kemarin membentuk Candle White Body yang mengindikasikan adanya potensi penguatan. Hal ini juga didukung oleh indikator MA5, Stochastic, dan Volume yang memiliki korelasi positif terhadap penguatan saham tersebut.

Pada perdagangan terakhir dapat dilihat bahwa pergerakan harga saham MYOR berhasil mem-breakout garis MA5. Oleh karena itu, dari indikator MA5 dapat disimpulkan bahwa akan adanya pembalikan arah (reversal) menjadi tren bullish pada saham MYOR. Hal ini diperkuat dengan adanya momen Golden Cross yang terjadi pada indikator Stochastic.

Indikator-indikator di atas juga diperkuat dengan Volume perdagangan yang didominasi oleh aksi beli (Buy).

Recommendation: Buy

Target Price     : Rp 2.530

Stop Loss        : Rp 2.360

(DISCLAIMER ON)

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *