MENTARI PAGI EDISI 582, JUMAT 18 SEPTEMBER 2020

REVIEW IHSG

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis (17/09/2020) melemah sebesar -0.39% ; mengakhiri perdagangan kemarin di level 5038.401. Hanya terdapat tiga sektor yang mengalami penguatan, sementara sektor yang lainnya mengalami pelemahan.

Sektor yang mengalami penguatan paling tinggi yaitu sektor Property, Real Estate, and Building Construction sebesar (+2.55%) diikuti oleh sektor Miscellaneous Industry yang juga mengalami penguatan sebesar (+1.16%). Adapun sektor yang mengalami pelemahan tertinggi yaitu sebesar (-1.59%) yang dialami oleh sektor Basic Industry and Chemicals, kemudian sektor Finance pun mengalami pelemahan sebesar (0.78%). Perdagangan kemarin tercatat sebesar 10.221 milyar saham yang diperdagangkan dengan total nilai transaksi sebesar 6.679 triliun. Asing pun melakukan aksi jual sehingga mencatatkan penjualan bersih asing (net foreign sell) sebesar 405.02 milyar.

Hari ini kami memprediksi bahwa IHSG akan kembali meluncur bebas atau pelemahan seperti hari sebelumnya. Hal ini disebabkan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 16-17 September 2020 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) di posisi 4%. Dewan Gubernur BI yang dipimpin oleh Perry Warjiyo sebagai Gubernur menilai langkah tersebut masih konsisten untuk mendorong pemulihan ekonomi di masa pandemi COVID-19. Meskipun sudah sesuai ekspektasi para pelaku pasar, tentunya investor kecewa terhadap keputusan BI ini, sebab Indonesia kini berada di ujung jurang resesi dengan masalah daya beli masyarakat. Begitu pula seperti yang ditunjukkan jika dilihat dari sisi teknikalnya, yang mana Exponential Moving Average (EMA) rerata 14 hari dan 5 hari berjauhan dan menunjukkan trend turun atau Bearish. Begitu juga yang ditunjukkan oleh Stochastic Oscillator yang menunjukkan persilangan pada level 50 dan mengindikasikan akan terjadi penurunan.

BERITA EKONOMI

Tak Ada Kejutan dari Perry, IHSG Terima Nasib Ditutup Merah

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis (17/9/20) ditutup anjlok 0,40% di level 5.038,40 setelah keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia untuk mempertahankan suku bunga acuan.

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 16-17 September 2020 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) di posisi 4%. Dewan Gubernur BI yang dipimpin oleh Perry Warjiyo sebagai Gubernur menilai langkah tersebut masih konsisten untuk mendorong pemulihan ekonomi di masa pandemi COVID-19.

Harga obligasi negara pada Kamis (17/9/2020) ditutup melemah, dengan kenaikan harga hanya terjadi pada obligasi jangka pendek bertenor 1 tahun. Suku bunga yang ditahan membuat imbal hasil (yield) surat utang kurang menarik di tengah risiko resesi.

Meskipun sudah sesuai perkiraan pasar, investor khawatir keputusan BI ini membawa Indonesia kian dekat dengan jurang resesi. Indonesia mengalami deflasi 2 bulan berturut-turut, sebesar -0,10% pada Juli dan -0,05% pada Agustus.

Menurut Hima AE, Meskipun sudah sesuai ekspektasi para pelaku pasar, tentunya investor kecewa terhadap keputusan BI ini, sebab Indonesia kini berada di ujung jurang resesi dengan masalah daya beli masyarakat. Meskipun begitu, Perry juga menggarisbawahi bakal melanjutkan kebijakan makroprudensial yang akomodatif. Hal ini dilakukan karena masih rendahnya penyaluran kredit perbankan.

Pasar sangat berharap akan adanya kejutan dari BI karena ketika suku bunga (terutama kredit perbankan) murah, maka rumah tangga dan dunia usaha akan tertarik untuk mengakses kredit. ‘Darah’ dari perbankan ini menjadi bekal untuk melakukan ekspansi.

Saat beban pengusaha berkurang karena kredit yang murah, maka ekspansi bisa dilakukan. Ekspansi usaha berarti penciptaan lapangan kerja, pengurangan pengangguran, dan pengentasan kemiskinan. Indonesia bisa cepat mentas dari ‘lumpur’ resesi sekaligus meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Sumber : CNBC Indonesia

REKOMENDASI SAHAM

Pada perdagangan Kamis, 17 September 2020 PT. Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) ditutup menguat sebesar +0,42% pada harga Rp 6.025. Jika dilihat dari Analisis Teknikal pada perdagangan kemarin membentuk Bullish Candle yang mengindikasikan adanya potensi penguatan. Hal ini juga didukung oleh indikator MA5, MA10, RSI, dan Volume yang memiliki korelasi positif terhadap penguatan saham tersebut.

Pada perdagangan terakhir dapat dilihat bahwa terjadi Golden Cross antara garis MA5 dan garis MA10, hal ini memberi sinyal akan adanya perubahan arah tren menjadi bullish. Selain itu, level indikator RSI masih berada di bawah 50 (masih jauh dari area overbought).

Indikator-indikator tersebut juga diperkuat dengan Volume perdagangan yang didominasi oleh aksi beli (Buy).

Recommendation: Buy

Target Price     : Rp 6.325

Stop Loss        : Rp 5.900

 

(DISCLAIMER ON)

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *