MENTARI PAGI EDISI 581, KAMIS 17 SEPTEMBER 2020

REVIEW IHSG

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu (16/09/2020) melemah sebesar (0.83%), mengakhiri perdagangan kemari di level 5149,376. Hanya terdapat dua sektor yang mengalami penguatan, sementara sektor lainnya ditutup melemah.

Sektor yang mengalami penguatan tertinggi diraih oleh sektor Basic Industry and Chemicals sebesar (+0,73%) dan disusul oleh sektor Agriculture sebesar (+0.12%). Sementara sektor yang mengalami pelemahan paling besar terjadi pada sektor Mining sebesar (-1.63%) diikuti dengan sektor Infrastructure, Utilities, and Transportation sebesar (-1.35%). Akibatnya, IHSG tidak mampu melanjutkan kenaikannya dan mengalami koreksi. Pada perdagangan kemarin tercatat 10.957 milyar saham diperdagangkan dengan total nilai transaksi sebesar 6.520 triliun. Asing pun memilih untuk menjual dan mencatatkan penjualan bersih (Net Foreign Sell) sebesar (852,52 Miliar).

Hari ini kami memprediksi bahwa IHSG masih melemah seperti hari sebelumnya. Hal ini disebabkan karena  pelaku pasar masih menunggu gebrakan Ketua The Fed Jerome Powell yang baru saja meluncurkan pendekatan baru terkait inflasi. Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC) juga akan membagi update kuartalan atas estimasi pertumbuhan ekonomi, kondisi pengangguran dan arah inflasi serta arahan mengenai kebijakan moneter ke depannya.

Jika dilihat dari analisa secara teknikal, dapat dilihat bahwa candlestick hari ini tidak sanggup menembus ketiga indicator yaitu, MA 14 ( Moving Average rerata 14), MA 22 (Moving Average rerata 22), MA 34 (Moving Average rerata 34).

BERITA EKONOMI

Indonesia di Ambang Resesi, Pasar Modal Tetap Jadi Andalan Bagi Korporasi

Indonesia di ambang resesi. Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan ekonomi di kuartal tiga akan tertekan, sehingga di akhir tahun pertumbuhan ekonomi ada di kisaran -1,1% hingga 0,2%. Meski begitu, ancaman resesi tidak akan mempengaruhi minat pencarian dana di pasar modal.

Harga obligasi pemerintah kompak ditutup menguat pada perdagangan Senin (7/9/2020). Penguatan ini sejalan dengan menguatnya nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat AS) pada perdagangan saat itu. Semua seri SBN dikoleksi investor pada saat itu, sehingga yield SBN kompak mengalami penurunan. Yield SBN dengan tenor 10 tahun yang merupakan acuan yield obligasi negara mengalami penurunan 3,8 basis poin ke level 6,91%.

Yield berlawanan arah dari harga, sehingga penurunan yield menunjukkan harga obligasi yang naik. Demikian juga sebaliknya. SBN tenor 5 tahun mengalami penurunan yield terbesar yakni 3,9 basis poin ke 5,523% sedangkan penurunan yield terkecil terjadi pada SBN bertenor 1 tahun sebesar 0,10 basis poin ke 3,763%. Satu basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.

Sentimen positif hari ini datang dari Bank Indonesia (BI) yang melaporkan cadangan devisa (cadev) Indonesia akhir Agustus 2020 sebesar US$ 137 miliar, naik dibanding bulan sebelumnya sebesar US$ 135,1 miliar. Cadev Indonesia pada Agustus 2020 berhasil mencetak rekor tertinggi sejak Januari 2018 sebesar US$ 132 miliar. Dengan cadev yang meningkat, BI memiliki lebih banyak amunisi menstabilkan rupiah sehingga memberikan kenyamanan bagi investor asing untuk berinvestasi.

Menurut Hima AE, instumen-instrumen surat utang korporasi menunjukan sinyal yang positif dari sisi emiten yang mulai banyak melakukan penerbitan obligasi karena faktor dari sisi tekanan pasar. Oleh karena itu kami melihat peluang untuk penerbitan obligasi korporasi di sisa akhir tahun ini akan cukup besar. Apalagi ditinjau adanya obligasi yang akan jatuh tempo pada 4 bulan kedepan dari September – Desember dengan kisaran masih ada 40 Triliun obligasi korporasi yang akan jatuh tempo. Dengan itu, dana yang jatuh tempo berpotensi bisa di investasikan kembali oleh investor ke obligasi baru, dengan mampu memberikan tingkat imbal hasil yang cukup menarik bagi investor.

REKOMENDASI SAHAM

Pada perdagangan Rabu, 16 September 2020 PT. Indah Kiat Pulp and Paper Tbk (INKP) ditutup menguat sebesar +8,99% pada harga Rp 9.400. Jika dilihat dari Analisis Teknikal pada perdagangan kemarin membentuk candle long white body yang mengindikasikan adanya potensi penguatan. Hal ini juga didukung oleh indikator Parabolic Sar, Momentum, dan Volume  yang memiliki korelasi positif terhadap penguatan saham tersebut.

Pada perdagangan terakhir dapat dilihat bahwa pergerakan harga saham INKP berhasil bergerak di atas Parabolic Sar. Hal ini mengindikasikan sinyal positif  bahwa perusahaan masih akan mengalami kenaikan. Indikator Momentum juga berada diatas 100, hal ini menunjukkan sinyal positif untuk naik.

Indikator-indikator tersebut juga diperkuat dengan Volume perdagangan yang tinggi dan didominasi oleh aksi beli (Buy).

Recommendation: Buy

Target Price     : Rp 9.775

Stop Loss        : Rp 9.000

(DISCLAIMER ON)

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *