MENTARI PAGI EDISI 580, RABU 16 SEPTEMBER 2020

REVIEW IHSG

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa (15/09/2020) melemah sebesar -1.18% ; mengakhiri perdagangan kemarin di level 5100,86. Hanya terdapat tiga sektor yang mengalami penguatan, sementara sektor lainnya ditutup melemah.

Sektor yang mengalami penguatan tertinggi diraih oleh sektor Property, Real Estate, and Building Construction sebesar (+2.53%) dan disusul oleh sektor Miscellaneous Industry (+0.83%). Sementara sektor yang mengalami pelemahan paling besar terjadi pada sektor Finance sebesar (-2.13%) diikuti dengan sektor Infrastructure, Utilities, and Transportation sebesar (-1.67%). Akibatnya, IHSG tidak mampu melanjutkan kenaikannya dan mengalami koreksi. Pada perdagangan kemarin tercatat 13.948 milyar saham diperdagangkan dengan total nilai transaksi sebesar 8.015 triliun. Asing pun memilih untuk hengkang dan mencatatkan penjualan bersih (Net Foreign Sell) sebesar 1.11 triliun.

Hari ini kami memprediksi bahwa IHSG akan kembali melemah seperti hari sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh adanya pengumuman yang diluncurkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yakni angka impor Indonesia pada Agustus 2020 senilai US$ 10,74 miliar atau turun 24,2% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/YoY). Penurunan impor mengindikasikan bahwa permintaan bahan baku dan barang modal untuk keperluan manufaktur di dalam negeri masih melemah, mengingat lebih dari 80% impor nasional merupakan impor barang non-konsumtif. Jika dilihat dari analisa secara teknikal, dapat dilihat bahwa candlestick hari ini tidak sanggup menembus EMA14 (Exponential Moving Average rerata 14) dan bersifat memantul sehingga tidak terjadi Golden Cross diantara EMA14 dan EMA5. Selain itu, Stochastic Oscillator pun menunjukkan tanda pembalikan pada level 38. Hal ini pun sebagai pertanda bahwa IHSG tidak memiliki kekuatan yang berarti untuk dapat menghijau hari ini.

BERITA EKONOMI

Awas! Rating Utang RI Bisa Turun, Rupiah Wajib Waspada

Nilai tukar rupiah terhadap dolar (AS) berhasil menguat diperdagangan pasar spot. Akhirnya rupiah menguat setelah berhari-hari lesu.Pada Selasa (15/9/2020), US$ 1 dibanderol Rp 14.800 kala pembukaan pasar spot. Rupiah menguat 0,4% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Depresiasi rupiah terjadi saat dolar AS sejatinya sedang melemah. Dalam sepekan terakhir, Dollar Index terkoreksi 0,39%. Jadi, sepertinya sentimen domestik yang membuat rupiah tertekan. Dua pekan lalu, pasar dihebohkan oleh dinamika hubungan pemerintah dan Bank Indonesia (BI). Untuk mengamankan pembiayaan anggaran yang meningkat akibat penanganan pandemi virus corona, BI diminta masuk untuk membeli obligasi pemerintah di pasar primer. Tahun ini, BI menjadi pembeli Surat Berharga Negara (SBN) untuk pemenuhan kebutuhan anggaran kepentingan umum (public goods) senilai hampir Rp 400 triliun. Masuknya BI di pasar primer (baik lelang, greenshoe options, sampai private placement) akan menyebabkan peningkatan jumlah uang beredar. Selain menimbulkan risiko inflasi, rupiah juga dipandang semakin ‘murah’ karena pasokan yang meningkat. “Program pembelian obligasi bisa mempengaruhi kemampuan bank sentral di negara-negara berkembang untuk merespons krisis pada masa mendatang. Tentu bisa juga berdampak terhadap rating obligasi negara tersebut,” sebut Andrew Wood, S&P Global Ratings Credit Analyst.

Menurut Hima AE, Jika investor sampai punya persepsi bahwa pemerintah punya ketergantungan jangka panjang terhadap pembiayaan dari bank sentral, maka otoritas moneter akan kehilangan kredibilitas. Bank sentral akan dipandang melakukan monetisasi, menggunakan pembiayaan defisit fiskal sebagai sarana ‘mencetak uang’ yang mengancam stabilitas fleksibilitas kebijakan moneter dan perekonomian secara luas.

Akibatnya, risiko penurunan peringkat obligasi menjadi meninggi. Ketika rating obligasi turun, maka investor akan menjauh dari pasar SBN. Ini bisa menjadi sentimen negatif bagi rupiah.

Sumber : CNBC

REKOMENDASI SAHAM

Pada perdagangan Selasa, 15 September 2020 PT. United Tractors Tbk (UNTR) ditutup menguat sebesar +3,80% pada harga Rp 23.875. Jika dilihat dari Analisis Teknikal pada perdagangan kemarin membentuk Bullish Candle yang mengindikasikan adanya potensi penguatan. Hal ini juga didukung oleh indikator RSI, Momentum, dan Volume MA serta Garis Support and Resistence yang memiliki korelasi positif terhadap penguatan saham tersebut.

Pada perdagangan terakhir dapat dilihat bahwa pergerakan harga saham UNTR berhasil breakout garis resistence, yang sekarang menjadi garis support baru. Hal ini mengindikasikan sinyal positif akan adanya potensi kenaikan. Dari indikator RSI menunjukkan bahwa saham UNTR masih berada diluar area overbought. Indikator Momentum juga berada diatas 100, hal menunjukkan sinyal positif untuk naik.

Indikator-indikator tersebut juga diperkuat dengan Volume perdagangan yang tinggi dan didominasi oleh aksi beli (Buy), serta Volume tersebut berhasil melewati garis MA yang memberi sinyal positif untuk naik.

 

Recommendation: Buy

Target Price     : Rp 24.800

Stop Loss        : Rp 23.400

 

(DISCLAIMER ON)

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *