MENTARI PAGI EDISI 579, SELASA 15 SEPTEMBER 2020

REVIEW IHSG

Pada penutupan perdagangan Senin, (14/09/20) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat +2.89% pada level 5.161.828. Sepuluh sektor saham pembentuk IHSG, seluruhnya berada di zona hijau.

Penguatan perdagangan kemarin dipimpin oleh sektor Property, Real Estate and Building Construction (+6.47%). Kemudian disusul sektor Basic Industry and Chemicals (+4.28%) dan sektor Finance (+3.25%).  Perdagangan kemarin tercatat 13.043 milyar saham diperdagangkan serta total nilai transaksi mencapai 9.711 triliun. Asing juga mencatatkan penjualan bersih (net foreign sell) dikeseluruhan pasar mencapai -477.82 milyar.

Hari ini kami prediksi IHSG berpotensi akan meneruskan penguatannya. Sentimen dari pemberlakuan kembali Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ketat di Jakarta dinilai tidak lagi menekan indeks. Selain itu, sentimen global juga menjadi salah satu faktor yang dapat menyokong kenaikan IHSG, salah satunya yaitu pasar yang mengapresiasi uji coba vaksin covid-19 dari AstraZeneca yang kembali dilanjutkan setelah sempat berhenti pekan lalu. Sementara jika dilihat dari teknikal, IHSG menunjukkan tanda-tanda kenaikan. Hal ini nampak pada indikator pergerakan rerata (Moving Average), dimana garis rerata lima hari (MA5) cenderung akan bergerak menuju keatas garis rerata dua puluh hari (MA20) sehingga berkecenderungan akan mengalami persilangan naik (Golden Cross).

BERITA EKONOMI

Jatuh Dari Langit! Emas Tak Lagi Sakit?

Harga emas masih susah tembus ke level tertinggi historisnya. Sejak terjun bebas bulan lalu, harga logam mulia ini susah untuk menyentuh level psikologis US$ 2.000/troy ons.

Awal pekan ini Senin (14/9/2020), harga emas dunia di pasar spot menguat tipis. Pada 07.00 WIB, harga logam kuning tersebut naik 0,08% ke US$ 1.942,5/troy ons. Pekan lalu harga emas naik 0,65% ke US$ 1.941,5/troy ons.

Harga emas turun pada hari Jumat (11/9/2020) setelah Bank Sentral Eropa (ECB) tak memberikan sinyal konkrit tentang stimulus lebih lanjut, tetapi ketidakpastian ekonomi yang masih ada membuat logam kuning tersebut tetap di jalur untuk kenaikan secara mingguan.

Pekan ini bank sentral AS yakni the Fed akan mengumumkan kebijakan moneternya dan semua mata tertuju pada otoritas moneter paling berpengaruh di dunia itu. Terakhir ketua the Fed mengatakan bahwa bank sentral akan membiarkan inflasi untuk bergerak lebih tinggi.

Inflasi yang tinggi berarti mengindikasikan bahwa nilai mata uang akan tergerus. Jelang rapat komite pengambil kebijakan the Fed ini, indeks dolar berpotensi bergerak volatil dan cenderung melemah. Pelemahan dolar diharapkan mampu menjadi angin segar bagi emas.

Selain adanya ancaman inflasi yang membawa berkah bagi emas, risiko ketidakpastian global akibat tensi geopolitik tinggi AS-China yang kembali mencuat juga harus tetap diwaspadai investor.

Hingga pukul 16.00 WIB, harga emas di pasar spot masih berada di jalur hijau dengan kenaikan 0,28 persen ke posisi US$1,945.99 per troy ounce. Adapun emas berjangka Comex naik 0,34 persen ke level US$1.954,60 per troy ounce.

Menurut Hima AE, dengan diberlakukan PSBB tidak berpengaruh signifikan terhadap kenaikan harga emas, kebijakan itu minim dampaknya bagi harga emas. Kecuali ada inflasi atau krisis akan naik. Melemahnya rupiah dan PSBB akan menggerakan harga. Kedua factor tersebut akan membuat public berebut asset aman. Dengan memprediksi emas di titik Rp 1,04 – Rp 1,05 juta per gram.

Dilansir , investor mengambil untung sebagai reaksi atas beberapa hari kenaikan nilai emas, yang bergerak naik akibat dampak pandemi Covid-19. Namun, emas tertekan saat indeks harga konsumen AS meningkat 0,4 persen, lebih baik dari perkiraan. Sebagian pelaku pasar mengalihkan ke emas dengan percaya prospek umum untuk emas tetap bullish.

Harga emas telah melonjak 28 persen tahun ini, didukung oleh stimulus besar-besaran oleh bank-bank sentral global. Emas dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan penurunan nilai mata uang.

Sumber: CNBC, Bisnis

REKOMENDASI SAHAM

Pada perdagangan Senin, 14 September 2020 PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) ditutup menguat sebesar +2,85% pada harga Rp 2.890. Jika dilihat dari Analisis Teknikal pada perdagangan kemarin membentuk Candle Long White Body yang mengindikasikan adanya potensi penguatan. Hal ini juga didukung oleh indikator MACD, sthocastic dan Volume yang memiliki korelasi positif terhadap penguatan saham tersebut.

Pada perdagangan terakhir dapat dilihat bahwa pergerakan harga saham TLKM berhasil menembus titik rendah stochastic dan menandakan bahwa perusahaan akan mengalami bullish reversal.

Berikutnya, MACD pada saham TLKM yang mulai akan mengalami golden cross menandakan perusahaan akan mengalami tren bullish.

Indikator-indikator diatas juga diperkuat dengan Volume perdagangan yang didominasi oleh aksi beli (Buy).

Recommendation : Buy

Target Price     : Rp 3.000

Stop Loss        : Rp 2.830

(DISCLAIMER ON)

 

 

 

 

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *