MENTARI PAGI EDISI 556, KAMIS 12 DESEMBER 2019

REVIEW IHSG

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu, (11/12/19) ditutup melemah 0.06%, mengakhiri perdagangan kemarin di level 6.180,099. Empat sektor menguat sementara enam lainnya terkapar dizona merah

Sektor mining (+0.88%) memimpin penguatan perdangan kemarin disusul sektor trade,service,and investment (+0.65%) sedangkan sektor dengan pelemahan paling signifikan yaitu sektor miscellaneous industri (-0.97%) dan sektor basic industry and chemicals (-0.70%). Perdagangan kemarin tercatat 8.591 milyar saham diperdagangkan serta total nilai transaksi mencapai Rp 6.193 triliun. Asing juga mencatatkan pembelian bersih (net foreign buy) dikeseluruhan pasar mencapai 43.83 milyar.

Hari ini kami prediksi IHSG masih berpotensi mengalami pelemahan lantaran minimnya katalis positif baik dari domestik maupun global, seperti dilihat dari kesepakatan dagang AS-China yang juga belum kunjung selesai dan FOMC masih belum terlihat arah pertemuannya. Bursa tanah air pun masih dalam pencarian arah karena perpindahan kabinet pemerintahan yang masih dalam pembenahan, sehingga investor cenderung wait and see. Jika dilihat secara teknikal IHSG masih menunjukkan tanda-tanda menguat karena masih bergerak diatas rata-rata harganya dalam lima hari terakhir (MA5) serta didukung indikator RSI yang belum menyentuh level overbought (jenuh beli).

BERITA EKONOMI

Kementrian ESDM targetkan DMO batubara 2020 155 juta ton

Target kuota volume DMO meningkat dari 128 juta ton pada tahun ini menjadi 155 juta ton tahun depan. Walaupun realisasi selalu dibawah target, Kementrian ESDM menjelaskan naiknya target DMO ini untuk mengantisipasi kenaikan permintaan batubara dalam negeri yang sebagian besar dikonsumsi oleh Perusahaan Listrik Negara. DMO tahun depan dipatok di harga 70 USD per ton yang dimana menurut Asosiasi Pengusaha Batubara Indonesia (APBI) terlalu tinggi ditengah tren penurunan harga batubara di harga 60an USD. Hal ini berdampak pada naiknya beban konsumen batubara DMO. APBI juga meminta kejelasan sanksi dan insentif bagi perusahaan yang merealisasikan DMO dibawah atau diatas kewajibannya. Sebelumnya sanksi berupa penurunan produksi diubah menjadi berupa denda. Hal ini membuka peluang perusahaan lebih memilih membayar denda dibanding memenuhi kuota DMO apabila keuntungannya tipis.

Menurut Hima AE, sejauh ini kebijakan DMO berdampak positif bagi kepastian suplai listrik yang masih bergantung dari sumber energi batubara. Namun, pemerintah juga harus mendorong terus berjalannya pergeseran ke sumber energi terbarukan. Dari sisi permintaan, belum pastinya keputusan perang dagang dan mulai terlihatnya tanda-tanda perekonomian dunia berpotensi memberatkan harga batubara dan apabila DMO dipatok di harga 70 USD per ton maka akan membuat konsumen DMO batubara merugi. Tetapi, pemangkasan produksi minyak oleh negara OPEC dapat sedikit menahan harga batubara karena tingginya harga minyak sebagai barang pengganti.

Sumber : Kontan.co.id

REKOMENDASI SAHAM

Pada perdagangan Rabu, 11 Desember 2019 PT Erajaya Swasembada Tbk. (ERAA) ditutup menguat sebesar +3,19% pada harga 1615. Jika dilihat dari Analisis Teknikal pada perdagangan kemarin saham ERAA membentuk Long White Body Candle yang mengindikasikan adanya potensi penguatan yang berkelanjutan. Hal ini juga didukung oleh indikator Moving Average 5, Stochastic, dan Volume yang memiliki korelasi positif terhadap penguatan saham tersebut.

Recommendation : BUY

Target Price : 1680

Stop Loss : 1550

(Disclaimer On)

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *