MENTARI PAGI EDISI 543, JUMAT 1 NOVEMBER 2019

REVIEW IHSG

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis, (31/10/19) ditutup melemah 1.07% ke level 6,228.317. Hanya satu sektor menguat sisanya mengalami pelemahan. Sektor agriculture menguat (+0.22%), dan sektor mining dengan koreksi terbesar (-3.62%) Perdagangan kemarin tercatat 22.794 milyar saham diperdagangkan serta total nilai transaksi mencapai Rp 11.702 triliun. Asing juga mencatatkan penjualan bersih (net foreign sell) dikeseluruhan pasar mencapai -92.93 milyar.

Hari ini kami prediksi IHSG berpotensi masih alami koreksi lantaran sentimen negatif global, khususnya prospek kesepakatan dagang AS-China fase pertama yang diprediksi tidak bisa diteken tepat waktu dan aksi ambil untung (profit taking) yang masih akan berlanjut. Jika dilihat secara teknikal IHSG dalam situasi tertekan seiring posisinya yang kembali bergerak dibawah rata-rata nilainya dalam lima hari terakhir (moving averange /MA5) didukung candlestick hitam dan indikator stochasctic yang sudah menyentuh level overbought mengisyaratkan akan terjadi potensi penurunan.

BERITA EKONOMI
Fed Rate Turun ke 1,75%, Hong Kong Resesi

Pada Kamis (31/10) pagi, FOMC memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin ke 1,75% sesuai dengan ekspektasi pasar. Ini merupakan kali ketiga The Fed menurunkan suku bunganya pada tahun ini. Pemangkasan dilakukan setelah FOMC melihat masih lemahnya perekonomian AS. Berita lain datang dari Hong Kong yang resmi masuk ke jurang resesi setelah pertumbuhan PDB nya terkontraksi dua kuartal berturut-turut yaitu sebesar -0,5% pada kuartal kedua 2019 dan -3.2% pada kuartal ketiga 2019. Demo yang terjadi hampir selama lima bulan di Hong Kong sukses menghambat perekonomian Hong Kong yang bersumber dari penolakan masyarakat Hong Kong terhadap UU ekstradisi.

Menurut Hima AE, pemotongan suku bunga oleh The Fed tidak serta merta membawa kelebihan likuiditas investor ke aset kertas lantaran pelemahan ekonomi yang mulai terlihat di berbagai belahan dunia. Pertanda ini terlihat tidak hanya di Hong Kong, namun negara induknya yaitu China pun menunjukkan perlambatan dilihat dari rilis data PMI manufaktur China yang menunjukkan kontraksi selama enam bulan berturut-turut dan terakhir menunjukkan kejatuhan yang cukup jauh dari 49,8 pada September ke 49,3 pada Oktober. Pertanda lain terlihat dari sudah dimulainya quantitative easing oleh Bank Sentral Eropa yang sejauh ini telah menampung 2,6 triliun obligasi Euro. Kabar lain yang semakin memberatkan pasar adalah kemungkinan tertundanya penandatanganan perjanjian AS-China di Chile karena kedua belah pihak masih menegosiasikan isi perjanjian.

Sumber : Kontan, Bloomberg

 REKOMENDASI SAHAM

Pada perdagangan Kamis,31Oktober 2019 PT.Indofood Sukses MakmurTbk (INDF) ditutup menguat sebesar+1,32% pada harga Rp7.700. Jika dilihat dari AnalisisTeknikal pada perdagangan kemarin membentuk Candle Long White Body yang mengindikasikan adanya potensi penguatan. Hal ini juga didukung oleh indikator Bollinger BandMACD, Parabolic SAR, dan Volume yang memiliki korelasi positif terhadap penguatan saham tersebut.

Recommendation : Buy

Target Price :Rp8.025

Stop Loss : Rp7.500

(DISCLAIMER ON)

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *