MENTARI PAGI EDISI 541, RABU 30 OKTOBER 2019

REVIEW IHSG

Pada penutupan perdagangan Selasa (29/10/19) Indeks Harga Saham Gabungan menguat 0.25% pada level 6281.138 atau 15.754 poin . Dicatat 21.67 miliar saham yang diperdagangkan dibursa dengan total nilai 10.01 triliun. Asing mencatat penjualan bersih (net foreign sell) Rp 534,67 miliar di seluruh pasar. Enam dari empat sektor berada di zona hijau yakni Sektor Properti 1,47%, Sektor Infrastruktur menguat 1,07% dan Sektor Perkebunan menguat 0,89%. Sedangkan sektor yang berada dizona merah dengan pelemahan yang cukup signifikan yakni Sektor Consumer Goods melemah 0,48%, Sektor Manufaktur melemah 0,08% dan Sektor Pertambangan melemah 0,06%.

Jika dilihat dari segi teknikal, diperkirakan IHSG hari ini masih akan melanjutkan penguatannya pada support dan resistance 6250-6300 dilihat juga pada indikator Moving Average (MA9/MA20) yang masih berada diatas rata-rata dan adapun sentimen positif datang dari global yakni meredanya perang dagang antar AS-Tiongkok, sentimen positif dari domestik yakni terjadinya stabilitas ekonomi,keamanan dan politik.

BERITA EKONOMI
Ekspor Bijih Nikel Disetop Sementara

Menteri Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitanmengatakan bahwa kesepakatan yang diambil BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal) terkait penghentian ekspor bijih nikel hanya bersifat sementara hingga pemeriksaan terhadap perusahaan eksportir nikel selesai. Eksportir nikel diduga memanipulasi kuota dan kadar nikel yang hendak diekspor sehingga menyebabkan kapasitas ekspor yang normalnya hanya 30 kapal per bulan melambung menjadi 100-130 kapal per bulan. Aksi ekspor besar-besaran ini muncul setelah pengumuman aturan untuk menyetop ekspor bijih nikel mulai Januari 2020 diumumkan. Penentuan kuota ekspor nikel didasarkan atas progres pembangunan smelter. Dalam hal ini, Kementrian ESDM akan mendata eksportir yang memiliki fasilitas smelter dan KPK akan mengawasi proses pembangunannya. Hal ini dilakukan demi mencapai misi hilirisasi nikel dalam negeri.

Meurut Hima AE, aksi ekspor besar-besaran dilakukan setelah melambungnya harga nikel akibat rilisnya larangan ekspor bijih nikel yang akan berlaku Januari 2020 mendatang. Pemberhentian ekspor sementara ini akan semakin membawa harga nikel meroket dalam jangka pendek. Kabar ini dapat membawa sentimen jangka pendek pula untuk emiten komoditas nikel di bursa karena walaupun dilarang melakukan ekspor, perusahaan komoditas nikel tetap bisa menjual produknya dengan harga internasional kepada perusahaan smelter. Secara jangka panjang, pergerakan harga nikel masih didorong oleh larangan ekspor bijih nikel pada 2020 walaupun mungkin kabar ini sudah diantisipasi oleh pasar. Larangan ekspor bijih nikel diharapkan dapat menambah added value dari ekspor komoditas nikel ditengah tren kendaraan listrik yang mulai berlangsung.

Kabar lain yang cukup menjadi perhatian di pasar antara lain adalah kemungkinan dan China yang akan meneken kesepakatan pada 17 November di Chile ditengah-tengah event KTT APEC. Namun, menurut ekonom Chatib Basri, walaupun perselisihan China-AS di bidang ekonomi berakhir, akan tetap muncul perselisihan di bidang lainnya seperti teknologi. Menurutnya, peristiwa ini adalah perselisihan antara kekuatan lama dan kekuatan yang baru muncul dan sudah pernah terjadi peristiwa serupa antara Athena dan Roma beberapa abad silam.

Sumber : Kontan.co.id, Antara News

REKOMENDASI SAHAM

Pada perdagangan Selasa, 29 Oktober 2019 PT.Kalbe Farma Tbk (KLBF) ditutup menguat sebesar +1,87% pada harga Rp1.635. Jika dilihat dari Analisis Teknikal pada perdagangan kemarin membentuk candle Bullish Belt Hold yang mengindikasikan adanya potensi penguatan. Hal ini juga didukung oleh indikator Stoch, Parabolic SAR, dan Volume yang memiliki korelasi positif terhadap penguatan saham tersebut.

Recommendation : Buy

Target Price : Rp1.680

Stop Loss : Rp1.600

(DISCLAIMER ON)

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *