MENTARI PAGI EDISI 538, JUMAT 25 OKTOBER 2019

REVIEW IHSG

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis, (24/10/19) ditutup menguat 1.31% ke level 6,339.647. IHSG selama 10 hari beruntun berada dizona hijau. Hampir semua sektor menguat kecuali sektor mining melemahan 32.15 point dengan besaran koreksi (2.00%). Sementara sektor aneka industri menyumbang penguatan tertinggi sebesar (+2.25%) kemudian disusul sektor consumer goods sebesar (+1.98%) Perdagangan kemarin tercatat 15.951 milyar saham diperdagangkan serta total nilai transaksi mencapai Rp 10.706 triliun. Asing juga mencatatkan penjualan bersih (net foreign sell) dikeseluruhan pasar mencapai -548.17 milyar.

Hari ini kami prediksi IHSG berpotensi masih melanjutkan penguatan walau aksi profit taking bisa saja dilakukan oleh para pelaku pasar mengingat IHSG telah menguat selama beberapa hari. Keputusan pemangkasan suku bunga acuan BI 7DRRR sebesar 25 bps menjadi 5% diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik ditengah perekonomian global yang melambat. Kabinet baru periode Jokowi-Ma’ruf Amin memberikan sentiment positif bagi perekonomian Indonesia yang diharapkan dapat membawa masa depan lebih baik. Secara teknikal IHSG masih berada diatas rata-rata nilainya dalam lima hari terakhir (MA5) begitupun indikator MACD belum menunjukkan indikasi pembalikan arah (reversal).

BERITA EKONOMI

Laba Bersih Vale Indonesia (INCO) Anjlok 99% Hingga Kuartal Ketiga, ini Penyebabnya

Kinerja keuangan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) turun terimbas dari penurunan kinerja operasional. Sepanjang Sembilan bulan pertama tahun ini, produksi nikel dalam matte INCO tercatat 50.531 metrik ton, turun 6,8% disbanding periode yang sama tahun sebelumnya, 54.227 metrik ton.

Pada saat yang bersamaan, volume penjualannya tercatat 50.831 metrik ton. Angka ini turun dengan besaran yang sama seperti volume produksi, sebesar 6,8% dari sebelumnya 54.569 metrik ton.

Namun, rata-rata harga jual atau average selling price (ASP) juga turun. Berdasarkan laporan Vale, Kamis (24/10), penurunan harga jual rata-rata sebesar 6,4% menjadi US$ 9.963 per ton.

Imbasnya, pendapatan INCO selama periode tersebut turun 12,6% menjadi US$ 506,46 juta. Di tengah penurunan ini, INCO mencatat kenaikan beban pokok 0,4% menjadi US$ 485,44 JUTA .

Meski hanya naik tipis, kenaikan tersebut sudah cukup membuat laba kotor INCO menyusut 78% menjadi US$ 21,02 juta dari sebelumnya US$ 96,54 juta.

Penurunan tersebut turut mempengaruhi laba bersih INCO. Hingga akhir September kemarin, laba bersih perusahaan hanya US$ 160.000, anjlok 99% dari sebelumnya us$ 55,21 juta.

Menurut HIMA AE, penurunan kinerja operasional INCO  sepanjang sembilan bulan salah satunya dipengaruhi oleh melambatnya pertumbuhan ekonomi China dan hanya mencapai level 6% yang memberikan tekanan pada harga nikel , karena pasar khawatir permintaan akan berkurang mengingat  China merupakan konsumen logam terbesar di dunia.

Selain itu, kekhawatiran terhadap perkembangan negosiasi perang dagang antara AS dengan China juga masih mejadi perhatian pasar sebelum memutuskan untuk masuk ke pasar logam.

Sources : Kontan, Bisnis

REKOMENDASI SAHAM

Pada perdagangan Kamis, 24 Oktober 2019 PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. (TLKM) ditutup menguat sebesar +2,11% pada harga 4.350. Jika dilihat dari Analisis Teknikal pada perdagangan kemarin saham TLKM membentuk candle Hammer Pattern yang mengindikasikan adanya potensi penguatan yang berkelanjutan. Hal ini juga didukung oleh indikator Moving Average 5, Stochastic dan Volume yang memiliki korelasi positif terhadap penguatan saham tersebut.

Recommendation : BUY

Target Price : 4.500

Stop Loss : 4.200

(DISCLAIMER ON)

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *