MENTARI PAGI EDISI 528, JUMAT 11 OKTOBER 2019

REVIEW IHSG

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan kemarin Kamis (10/10/19) ditutup terkoreksi 0.09% ke level 6,023.64.  Sebanyak 205 saham mengalami penurunan, 187 mengalami kenaikan dan sisanya sebanyak 265 stagnan. Lima sektor menguat dan lima sektor lainnya melemah. Sektor consumer paling banyak menyumbang poin pelemahan bagi IHSG sebanyak 6.6 point dengan besaran koreksi 0.63%. Sementara sektor property mengalami penguatan tertinggi sebesar 0.87%. Perdagangan kemarin tercatat 12.520 milyar saham diperdagangkan serta total nilai transaksi mencapai Rp 8.378 triliun. Asing juga mencatatkan peenjualan bersih bersih (net foreign sell) dikeseluruhan pasar mencapai 331.56 milyar.

Perdagangan hari ini kami prediksi bahwa IHSG berpotensi mengalami tekanan, para pelaku pasar mengkhawatirkan gagalnya perundingan tingkat tinggi AS-China di Washington, D.C dan minimnya sentimen yang dapat mempengaruhi pergerakan IHSG membuat investor cenderung wait and see. Secara teknikal IHSG berfluktuasi antara zona merah dan hijau di rentang sangat sempit. Level 6000 sebagai support dan 6050 sebagai resisten. Indikator moving average/MA5 masih berada di bawah rata-rata nilainya dalam lima hari terakhir.

 

BERITA EKONOMI

Begini Strategi PGN (PGAS) untuk Mengembangkan Industri Gas Domestik

Industri gas Indonesia diakui masih memiliki beberapa tantangan. PT Perusahaan Gas Negara Tbk memiliki strategi untuk mengembangkan industri gas dalam negeri sekaligus meningkatkan kinerja emiten bersandi PGAS (anggota indeks Kompas100) tersebut.

Direktur Utama PGAS Gigih Prakoso menilai, industri gas bumi sebenarnya unik dan sangat menantang. Hal ini lantaran fleksibilitas komoditas gas bumi yang terhubung dengan kondisi energi dunia.

Salah satu strategi yang diterapkan perusahaan adalah membangun infrastruktur transmisi dan distribusi gas bumi untuk peningkatan konektifitas antara sumber pasokan gas dengan pengguna gas bumi.

Sebagai informasi, saat ini PGAS melayani lebih dari 350.000 pelanggan. PGAS memiliki cakupan jaringan gas untuk segmen rumah tangga sekitar 3.500 kilometer dari total seluruh jaringan gas yang dikelola perusahaan sepanjang lebih dari 10.000 kilometer.

Strategi PGAS lainnya adalah menyediakan infrastruktur gas untuk kebutuhan kilang minyak. Hal ini dalam rangka pergantian bahan bakar eksisting serta untuk memenuhi penambahan kebutuhan gas terkait proyek refinery development master plan (RDMP).

Menurut HIMA AE, tantangan – tantangan yang dihadapi oleh perseroan  seperti distribusi, menjadi pr besar. Untuk dapat mengangkut gas secara mudah, gas tersebut harus diubah terlebih dahulu menjadi gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG). Jika tidak, maka harus dibangun infrastruktur distribusi berupa jaringan pipa. Adapun hingga akhir Juni 2019 lalu, volume distribusi gas PGAS telah mencapai 932 BBUTD. Permintaan gas terbesar datang dari sektor pembangkit listrik dan industri.

Hingga tutup tahun lalu, PGAS sudah merealisasikan 524.433 sambungan. Adapun untuk tahun ini, subholding gas bumi plat merah itu menargetkan pembangunan 78.216 sambungan. Sebagai informasi, hingga Semester I 2019 volume distribusi PGAS mencapai 932 BBUTD, yang mana lebih dari 95% dialirkan ke segmen industri.

Sources : Kontan, CNBC

REKOMENDASI SAHAM

Pada perdagangan Kamis, 10 Oktober 2019 PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) ditutup menguat sebesar +5,57% pada harga 3.790. Jika dilihat dari Analisis Teknikal pada perdagangan kemarin saham INCO membentuk candle Long White Body yang mengindikasikan adanya potensi penguatan yang berkelanjutan. Hal ini juga didukung oleh indikator Moving Average 5, Stochastic dan Volume yang memiliki korelasi positif terhadap penguatan saham tersebut.

Recommendation : Buy

Target Price : 3.900

Stop Loss : 3.680

(DISCLAIMER ON)

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *