MENTARI PAGI EDISI 526, RABU 09 OKTOBER 2019

REVIEW IHSG

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada  perdagangan Selasa, (09/10/19) ditutup menguat 0.65% ke level 6039.601.  Hampir semua sektor mengalami penguatan, kecuali sektor infastruktur, utilities dan transportasi yang mengalami pelemahan (-0.23%). Sementara sektor consumer goods memimpin perdagangan kemarin dengan penguatan (1.35%). Perdagangan kemarin tercatat 15.052 milyar saham diperdagangkan serta total nilai transaksi mencapai Rp 7.782 triliun. Asing juga mencatatkan penjualan bersih (net foreign sell) dikeseluruhan pasar mencapai 82.76 milyar.

Kami memprediksikan IHSG kembali berpotensi menguat. Hal ini dipengarui oleh peluang penurunan suku bunga The Fed pada akhir Oktober nanti. Penantian babak baru hubungan antara AS-China yang akan mengadakan pertemuan pada pekan ini dan menanti pidato para petinggi Bank The Fed yang menjadi perhatian para pelaku pasar. Sementara dari dalam negeri stabilitas fundamental makroekonomi domestik yang inklusif dan berkesinambungan membuat investor melirik pasar saham tanah air. Jika dilihat dari sisi teknikal indikator Relative Strength Index (RSI) memberikan sinyal penguatan bahwa IHSG belum berada pada batas jenuh belinya (overbought).

BERITA EKONOMI

Tower Bersama (TBIG) akan stock split dan rilis obligasi senilai US$ 650 juta

PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) akan melakukan dua aksi korporasi sekaligus. Pertama, perusahaan ini akan memecah nominal saham alias stock split. Kedua, TBIG juga akan menerbitkan surat utang berdenominasi mata uang asing.

Helmy Yusman Santoso, Sekretaris Perusahaan dan Direktur Keuangan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk dalam keterbukaan informasi di BEI pada Selasa (8/10) menjelaskan, dua aksi korporasi ini akan dimintakan izin kepada pemegang saham pada 30 Oktober. “Kami meminta izin untuk memecah nominal saham 1:5,” kata dia.

Perusahaan ini berharap usai memecah nilai nominal saham likuiditas TBIG meningkat.

Sepanjang tahun ini, harga saham TBIG terbilang naik cukup tinggi yakni 75,69% di Rp 6.325 per saham.

TBIG juga berencana untuk menerbitkan notes dalam mata uang asing US$ 650 juta. Rencana penerbitan obligasi ini terkait dengan rencana anak usaha TBIG yakni TBG Global Pte Ltd yang telah mendapat izin menerbitkan surat utang pada 21 Mei 2019.

Namun kali ini ada perubahan yakni TBIG yang akan menerbitkan obligasi. Dana obligasi tersebut untuk pinjaman ke entitas perusahaan, pelunasan utang jatuh tempo dan percepatan pinjaman.

Menurut HIMA AE, langkah perseroan ini dapat menarik para investor untuk membeli saham TBIG yang dimana setelah stock split ini dilaksanakan harga saham perusahaan akan berubah menjadi Rp 1.260/saham. Menilik dari sisi kinerja keuangan perseroan, pada Juni 2019, Tower Bersama membukukan pendapatan Rp 2,27 triliun, naik 8,8% dari periode Juni 2018 sebesar Rp 2,07 triliun.
Laba bersih yang dapat diatribusikan terhadap entitas induk pada Juni 2019 sebesar Rp 382,12 miliar, terkoreksi 4,97% dari periode sama tahun lalu Rp 402,12 miliar.

Sebagai informasi, perusahaan pemeringkat PT Fitch Ratings Indonesia memberikan peringkat A+ (idn) atau single A Plus atas obligasi ini. Peringkat ini masuk ke dalam empat teratas dan masuk kategori layak investasi. Sehingga peluang kemungkinan gagal bayar kecil.

 

Sources : Kontan, CNBC

REKOMENDASI SAHAM

Pada perdagangan Selasa, 8 Oktober 2019 PT H.M. Sampoerna Tbk (HMSP) ditutup menguat sebesar +1,89% pada harga 2.150. Jika dilihat dari Analisis Teknikal pada perdagangan kemarin HMSP membentuk candle Bullish Belt Hold yang mengindikasikan adanya potensi pembalikan arah trend. Hal ini juga didukung oleh indikator Moving Average 5, Stochastic serta Volume yang memiliki korelasi positif terhadap penguatan saham tersebut.

Recommendation : Buy

Target Price : 2.260

Stop Loss : 2.060

(DISCLAIMER ON)

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *