MENTARI PAGI EDISI 520, SELASA 1 OKTOBER 2019

REVIEW IHSG

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin (30/09/19) ditutup melemah 0.448% ke level 6169.102. Hanya dua sektor yang menguat, sisanya mengalami pelemahan. Perdagangan IHSG kemarin ditopang oleh sektor agrikultur yang menguat  (+1.61%) sementara sektor mining menjadi pemberat yang terkoreksi (-1.51%) Perdagangan kemarin tercatat 20.844 milyar saham diperdagangkan serta total nilai transaksi mencapai Rp 8.714 triliun. Asing juga mencatatkan pembelian  bersih (net foreign buy) dikeseluruhan pasar mencapai 340.41 juta.

Perdagangan hari ini kami prediksikan masih terus terkoreksi mengingat minimnya sentimen positif dari dalam maupun global. Aksi demo yang belum usai membuat investor wait and see sambil menunggu tensi mereda. Selain itu dari sisi global tidak lepas dari hubungan geopolitik antara AS-China yang akan melangsungkan perundingan dagang pada 10-11 Oktober nanti. Jika dilihat dari sisi teknikal IHSG terlihat kembali dalam tekanan karena bergerak dibawah rata-rata nilanya selama lima hari terakhir (Moving Average/MA 5) selain itu indikator Relative Strength Index (rsi) belum menyentuh titik jual jenuhnya (oversold).

BERITA EKONOMI

Ekonomi Tumbuh Melambat, IHSG Tersendat 

Sejak lima tahun ke belakang, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tumbuh 26%. Meski demikian, secara year-to-date (ytd), IHSG telah terkoreksi 0,41%. Asing pun terus meninggalkan pasar modal tanah air.

Terbukti, sejak lima tahun ke belakang, asing melakukan jual bersih (net sell) sebesar Rp 43,58 triliun. Pada perdagangan hari ini pun net sell asing masih tercatat sebesar Rp 68,91 miliar. Sejumlah sentimen dinilai menghambat kinerja indeks selama masa kepemimpinan Presiden Jokowi.

Sementara pada kuartal kedua 2019, ekonomi Indonesia dilaporkan hanya tumbuh 5,05%. Setali tiga uang, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana juga sepakat jika perlambatan pertumbuhan ekonomi menjadi salah satu faktor pemberat pergerakan IHSG.

Selain ekonomi yang tumbuh melambat, ada pula faktor lain seperti momentum Pemilihan Umum (Pemilu) dan perang dagang antara dua ekonomi raksasa dunia; China dan Amerika Serikat.

Kemungkinan lainnya adalah investor lebih memilih instrumen investasi selain saham. Herditya pun memprediksi IHSG bakal bertengger di level 6334 hingga akhir 2019. Pada penutupan perdagangan hari ini, IHSG keok di level 6169.102.

Menutut HIMA AE, pemerintah harus bergerak cepat untuk menangani perlambatan ekonomi yang telah terjadi yang salah satu imbasnya yakni IHSG, baik dari sisi internal maupun eksternal. Dari sisi internal pemerintah sebaiknya berfokus pada sejumlah problem yang telah melanda negeri ini, seperti karhutla di sumatera dan kalimantan, demo di setiap daerah di indonesia, kerusuhan yang terjadi di wamena, dan lainnya.

Masalah – masalah di atas menyebabkan kegiatan ekonomi menjadi terhambat walaupun tidak secara menyeluruh, seperti pengiriman barang,sehingga perusahaan pengirim harus mengeluarkan biaya dan waktu yg lebih banyak agar barangnya sampai ke tangan konsumen,  aktivitas jual beli masyarakat di pasar tradisional maupun modern. Ditakutkan dengan keadaan seperti ini harga barang bakal naik seperti yangkami jelaskan tadi, minat masyarakat berbelanja turun, sehingga menumbuhkan angka inflasi.

Disisi lain juga, investor lokal maupun asing cenderung untuk mengamankan assetnya dalam bentuk logam mulia emas, karena saham perusahaan, memiliki pertumbuhan yang lambat karena pendapatan perusahaan juga melambat yang diawali dengan melambatnya ekonomi dalam negeri disisi lain pergerkan harga emas relatif stabil dari instrumen investasi lainnya.

Pemerintah dituntut untuk memiliki regulasi yang tepat untuk menghadapi tantangan ekonomi yang ada baik seperti mengeluarkan kebijakan fiskal ekspansif, yaitu meningkatkan pengeluaran pemerintah dan menurunkan pajak dan mempermudah izin untuk usaha dan investasi, dan memperketat pengawasan badan izin usaha

Source : Kontan, Bisnis

REKOMENDASI SAHAM

Pada perdagangan Senin, 30 September 2019 PT Malindo Feedmill Tbk. (MAIN) ditutup menguat sebesar +1,10% pada harga 915. Jika dilihat dari Analisis Teknikal pada perdagangan kemarin saham MAIN membentuk candle Long White Body yang mengindikasikan adanya potensi pembalikan arah trend. Hal ini juga didukung oleh indikator Moving Average 5, Relative Strength Index (RSI) dan Volume yang memiliki korelasi positif terhadap penguatan saham tersebut.

Recommendation : Buy

Target Price : 965

Stop Loss : 865

(DISCLAIMER ON)

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *