MENTARI PAGI EDISI 514, SENIN 23 SEPTEMBER 2019

REVIEW IHSG

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun 0.21% ke level  6,231.473 pada Jumat (20/09/19). Tujuh sektor mengalami penguatan sementara 3 sektor lainnya mengalami pelemahan. Kenaikan tertinggi terjadi pada sektor infrastruktur (+1.21%) disusul sektor mining (+0.86%) dengan pelemahan signifikan terjadi pada sektor industri dasar (-0.75%). Tercatat 16.513 milyar saham diperdagangkan serta total nilai transaksi mencapai Rp 10.904 triliun. Asing mencatatkan penjualan bersih (net foreign sell) dikeseluruhan pasar mencapai Rp 114.93 milyar.

Pada perdagangan hari ini kami memprediksi IHSG masih akan bertahan pada zona merah Tidak banyak data yang dapat membantu meniupkan sentimen positif bagi pasar saham domestik karena bursa AS sama-sama ditutup terkontraksi. Sentimen negatif global seperti prediksi tidak ada lagi penuruan suku bunga The Fed hingga akhir tahun membuat kekhawatiran para pelaku pasar serta perkembangan kondisi Iran dengan Arab Saudi-AS pasca penyerangan fasilitas ladang dan kilang minyak mentah  masih berkecamuk mewarnai pergerakan saham dunia. Jika dilihat dari sisi teknikal, IHSG berada dibawah garis Moving Average (MA5) yang mengindikasikan bahwa indeks masih akan memasuki area down tren sejalan dengan indikator MACD yang menunjukan sinyal pelemahan.

 

BERITA EKONOMI

Harga Minyak Berpeluang Naik Seiring Berjalannya Konflik Timur Tengah

Jumat (20/9), harga minyak west texas intermediate (WTI) kontrak pengiriman bulan November 2019 di New York Mercantile Exchange (Nymex) turun 0,07% ke level US$ 58,09 per barel. Namun, sepanjang pekan lalu harga minyak WTI masih mencatatkan kenaikan 5,90%. Setali tiga uang, harga minyak brent kontrak pengiriman November 2019 di ICE Futures turun 0,19% ke level US$ 64,28 per barel. Sementara dalam sepekan terakhir harga minyak brent naik 6,74%.

Dikutip Reuters, penurunan harga minyak dipicu oleh pejabat pertanian China yang akan mengunjungi sejumlah negara bagian AS di pekan depan. Namun, agenda ini berlangsung lebih cepat dari jadwal semula setelah pejabat China membatalkan kunjungkan ke Montana dan Nebraska.

Pembatalan ini terjadi akibat pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menginginkan kesepakatan perdagangan lengkap dengan negara Asia. Bukan hanya perjanjian bagi China untuk membeli lebih banyak produk pertanian AS.

Selain itu, laju pergerakan harga minyak juga tertahan lantaran stok minyak mentah di AS di luar dugaan mengalami kenaikan. Berdasarkan laporan Energy Information Administration (EIA), pekan lalu stok minyak AS naik 1,1 juta barel. Angka ini melampaui ekspektasi konsensus pasar yang memprediksi stok minyak AS akan terkoreksi 2,1 juta barel.

Namun, kekhawatiran kembali muncul setelah Arab Saudi dan AS menyalahkan Iran atas serangan fasilitas minyak Saudi Aramco pada pekan lalu. Akan tetapi Iran langsung menyangkal dugaan tersebut..

Ketidakpastian konflik di Timur Tengah sudah terefleksikan pada pergerakan harga minyak pada Jumat lalu. Kendati ditutup melemah, harga minyak sempat bertengger cukup lama di zona hijau sepanjang perdagangan kemarin.

Secara teknikal, harga minyak berada di bawah MA50, MA100, dan MA200. Indikator MACD berada di kisaran 0,0033—0,0107. Sedangkan stochastic ada di kisaran 42,09—44,38. Adapun indikator RSI bergerak di area 14,97.

Menurut HIMA AE, penyerangan kilang minyak Arab Saudi Aramco oleh pesawat tanpa awak memaksa Arab saudi untuk menutup Abqaiq dan Khurinya. Meskipun tanggung jawab atas serangan itu diklaim oleh houthi, Arab Saudi dan Amerika Serikat telah menyalahkan Iran, yang dengan tegas dibantah Teheran. Hal ini mengkhawatirkan karena kedepannya bisa saja penurunan jumlah ekspor minyak arab saudi per barelnya ke seluruh belahan dunia. Kenaikan harga minyak secara tidak langsung mendorong kenaikan harga batubara, karena jika harga melonjak akan mendorong konsumen seperti pembamgkit listrik untuk beralih dalam memilih bahan baku

Selain dapat menjadi sentimen penggerak harga batubara, kenaikan harga minyak di sisi lain juga dapat mempengaruhi biaya produksi emiten.

BUMI contohnya yang 30% dari anggaran keuangannya dipergunakan untuk keperluan membeli minyak untuk keperluan produksi.

Sources : Kontan, CNN, CNBC

 

REKOMENDASI SAHAM

Pada perdagangan Jumat, 20 September 2019 PT. Merdeka Copper Gold (MDKA) ditutup menguat sebesar (+2,42%) pada harga 6,350. Jika dilihat dari Analisis Teknikal pada perdagangan kemarin MDKA membentuk candle Engulfing Bullish dan ditutup dengan Morubozu putih bersumbu. Hal ini juga didukung oleh indicator Moving Average 5 dan  Bollinger Band yang memiliki korelasi positif terhadap penguatan saham tersebut.

Recommendation : Buy

Target Price : 6,708

Stop Loss : 6,057

(DISCLAIMER ON)

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *