MENTARI PAGI EDISI 510, SELASA 17 SEPTEMBER 2019

REVIEW IHSG

IHSG pada Senin (16/9) dibuka di level 6262,288 kemudian terus melemah sepanjang jam perdagangan hingga ditutup melemah 115,41 poin atau 1,82% menuju ke level 6219,435 senada dengan indeks Asia lainnya yang juga ditutup melemah. Asing masih mencatatkan aksi jual bersih sebesar 559,19 Miliar di all market, sementara 122 saham bergerak naik, 297 bergerak turun, dan 138 tetap.

Sentimen yang mewarnai pasar cukup banyak diantaranya ketegangan di timur tengah yang meningkat setelah kilang minyak Aramco milik Arab Saudi diserang, kenaikan cukai rokok sebesar 23% yang membuat harga emiten rokok turun drastis, surplus neraca berjalan yang dibawah ekspektasi pasar, dan ekspektasi penurunan suku bunga pada akhir bulan ini.

IHSG masih didominasi oleh sentimen bearish, secara teknikal IHSG masih akan melanjutkan pelemahannya menuju ke level support 6033. Indikator stochastic menunjukkan indeks mulai meninggalkan area jenuh jual. Hari ini (17/9) Hima AE memperkirakan indeks akan mengalami koreksi teknikal berupa penguatan tipis yang bergerak di rentang 6219 – 6245.

BERITA EKONOMI

Saham GGRM Anjlok 20%, IHSG melorot 1,82% ke 6.219 di Akhir Perdagangan Hari ini

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 115,40 poin atau 1,82% ke level 6.219,43 di akhir perdagangan Senin (16/9). Penurunan IHSG ini adalah yang terbesar sejak 11 Oktober 2018.

Sebanyak 122 saham naik, 297 saham turun dan 138 saham tak bergerak. Hanya satu sektor saham yang selamat ke zona hijau, yakni sektor pertambangan yang naik 0,54%.  Sedangkan sembilan sektor lainnya masuk ke zona merah.

Sektor-sektor dengan pelemahan terdalam adalah sektor consumer goods yang turun 6,06%, sektor manufaktur turun 3,66% dan sektor keuangan turun 1,62%. Total volume perdagangan saham di bursa mencapai 13,57 miliar saham dengan total nilai Rp 8,73 triliun.

Investor asing mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp Rp 558,92 miliar di seluruh pasar. Saham-saham dengan penjualan bersih terbesar asing adalah PT Gudang Garam Tbk (GGRM) Rp 346,9 miliar, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp 190,7 miliar dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp 161,1 miliar.

Menurut HIMA AE penurunan harga saham emiten produksi rokok di Indonesia ini disebabkan adanya kenaikan tarif cukai rokok pada tahun depan rata-rata sebesar 23% dan harga jual eceran rokok rata-rata sebesar 35%. diputuskan dalam rapat antara Presiden dan sejumlah menteri di Istana Negara pada Jumat yang lalu (13/9)

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, kenaikan tarif cukai rokok kemungkinan juga akan memberi dampak terhadap inflasi. Setiap bulan, menurut dia, rokok menyumbang inflasi sebesar 0,01%. Dengan demikian, menurut dia, harga rokok terus meningkat setiap bulannya.  Sementara untuk kenaikan cukai tahun depan, ia mengaku pihaknya belum menghitung dampaknya terhadap inflasi

Dalam Rancangan Anggaran dan Pendapatan Negara (RAPBN) 2020, pemerintah menargetkan penerimaan dari cukai atas tembakau mencapai Rp 171,9 triliun. Jumlah tersebut naik dari proyeksi tahun ini yang mencapai Rp 158,9  trilun.  Hingga semester pertama tahun ini, pendapatan bea dan cukai mencapai Rp 87,6 triliun. Dari jumlah tersebut, Rp 65,4 triliun di antaranya diperoleh dari cukai atas tembakau.

Apakah kenaikan pengenaan tarif cukai rokok yang telah ditetapkan pemerintah, dapat memberikan tambahan penerimaan negara sesuai dengan yang ditargetkan? ataukah konsumsi rokok nasional bakal turun akibat kenaikan harga?

Sources : Kontan, CNBC

REKOMENDASI SAHAM

Pada perdagangan Senin, 16 September 2019 PT. KMI Wire & Cable Tbk (KBLI) ditutup menguat sebesar +2,40% pada harga 640. Jika dilihat dari Analisis Teknikal pada perdagangan kemarin KBLI membentuk candle Long White Body. Hal ini juga didukung oleh indikator Moving Average 10, Parabolic serta Volume yang memiliki korelasi positif terhadap penguatan saham tersebut.

Recommendation : Buy

Target Price : 680

Stop Loss : 610

(DISCLAIMER ON)

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *