MENTARI PAGI EDISI 466 SENIN, 17 DESEMBER 2018

REVIEW IHSG

Pada penutupan perdagangan Jumat (14/12) Indeks Harga Saham Gabungan melemah 0.13% pada level 6169.843 atau -7.877 poin. Total volume perdagangan mencapai 10,02 miliar dengan nilai transaksi Rp 9,65 triliun. Sebanyak 221 saham melemah, berbanding 156 yang menguat. Sedangkan 151 lainnya tak bergerak. Investor asing tercatat net sell 26,01 miliar di pasar reguler dan 84 miliar di pasar keseluruhan.

Enam dari sepuluh sektor melemah. Sektor pertambangan melemah 0.65%  dan industri dasar melemah 0.62%, Sedangkan sektor saham yang paling menguat yaitu barang konsumer menguat  0,55%. Pelemahan indeks pada hari jumat(14/12) dikarenakan para investor melakukan aksi ambil untung, aksi ini terpicu akibat pelemahan bursa saham asia.

Dilihat dari segi teknikal, MACD membentuk pola dead cross di area positif, Stochastic dan RSI menunjukkan overbought atau jenuh beli. Nampak juga pola tweezer top candlestick pattern yang mengindikasikan adanya potensi pelemahan lanjutan. Diperkirakan indeks masih akan menuju ke area support pada rance 6140-6120.

BERITA EKONOMI

 

Seberapa Jitu Yield Obligasi Meramal Resesi AS?

Para pelaku pasar keuangan hingga pemimpin perusahaan global mulai mencemaskan potensi resesi yang diperkirakan akan dialami Amerika Serikat (AS) dalam beberapa tahun ke depan.

Jika resesi terjadi, kondisi tersebut akan menyebabkan hilangnya lapangan pekerjaan dalam jumlah besar, pendapatan yang stagnan, dan tingkat kemiskinan yang meluas.

Sumber: CNBC Indonesia

Opini Riset HIMA AE:

Telah banyak prediksi resesi AS dari inversi kurva imbal hasil, sebuah situasi di mana tingkat pada surat utang jangka pendek bergerak di atas obligasi yang memiliki jatuh tempo paling lama. Akhir pekan ini, yield obligasi pemerintah AS tenor 2 tahun berada di 2,7372%, lebih tinggi ketimbang tenor 3 tahun yang sebesar 2,7262% dan 5 tahun yaitu 2,734%. Terjadinya inverted yield ini merupakan pertanda awal datangnya resesi, karena investor meminta ‘jaminan’ yang lebih tinggi dalam jangka pendek. Artinya, risiko dalam jangka pendek lebih tinggi ketimbang jangka panjang. Sebanyak 82% CFO yang disurvei Duke percaya resesi akan dimulai akhir 2020. Wallstreet juga mulai mencium aroma perlambatan ekonomi yang terlihat dari aksi jual besar-besaran yang memicu pergerakan liar indeks saham dalam beberapa hari terakhir. JPMorgan Chase juga memperkirakan peluang resesi tahun 2019 menjadi 36% dari 25% di akhir September.

REKOMENDASI SAHAM

Pada tanggal 14 Desember 2018, Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) ditutup menguat sebesar +0.6% menuju level 8600.  Perdagangan kemarin BBNI membentuk candle bullish yang mengindikasikan saham BBNI mengalami penguatan. Hal ini juga di dukung oleh indikator RSI yang masih bergerak menguat. Jika dilihat dari analisa teknikal, kami prediksikan saham BBNI akan mengalami penguatan.

Rekomendasi    : Buy

Target Price        : 8920

Stop Lost             : 8150

DISCLAIMER ON

Create By : Research HIMA AE

Khotimah

Dwi Saputri

Cindy Alicia

Hari Setiawan

M. Yusuf Alfikri

Muh. Fauzan Arlan

Putri Devy Andriyani

Ahmad Ali Ramadhan

Bella Ainun Gustiandini

Post By : Bella Indah Rahayu

Witaningsih

5 thoughts on “MENTARI PAGI EDISI 466 SENIN, 17 DESEMBER 2018

  1. Like!! I blog quite often and I genuinely thank you for your information. The article has truly peaked my interest.

    Reply

  2. Удивительное явление произошло в Австралии,озеро в одном городском парке сменило свой цвет и стало розовым!Увидеть озеро,прочитать как это произошло можно тут

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *