MENTARI PAGI EDISI 460, JUMAT 07 DESEMBER 2018

REVIEW IHSG

Pada penutupan perdagangan Kamis (6/12) Indeks Harga Saham Gabungan melemah 0.29% pada level 6115.493 atau -17.627 poin. Total volume transaksi bursa mencapai 9,97 miliar saham dengan nilai transaksi Rp. 8,51 triliun. Sebanyak 149 saham menguat, sedangkan 259 saham melemah dan 130 saham tidak bergerak.

Tujuh dari sepuluh sektor melemah, sektor yang melemah cukup signifikan yakni, Sektor aneka industri melemah 2.39% , sektor perkebunan melemah 1.33% dan sektor konstruksi melemah 1.30%. sedangkan sektor barang konsumer menguat 0.41%. investor asing tercatat net sell diseluruh pasar sebesar Rp. 395,9 miliar.

Salah satu faktor yang menyebabkan pelemahan indeks hari ini yaitu karena para pelaku pasar global masih wait and see, dengan adanya pertemuan OPEC yang diharapkan akan menstabilkan harga minyak dunia.

Dari segi teknikal, indeks hari ini masih akan terkoreksi disekitar support 6059 dan resistance dikisaran 6153, dan juga belum adanya sentiment positif yang kuat yang dapat menopang pergerakan indeks hari ini.

BERITA EKONOMI

Bila AS Resesi, Ini Dampaknya ke RI

Kurva imbal hasil (yield curve) obligasi Amerika Serikat (AS) telah terbalik dan menyebabkan kondisi yang disebut inverted yield sejak senin pekan ini. Pelaku pasar cemas kondisi ini akan mengakibatkan terjadinya resesi di Negeri Paman Sam.

Hari ini, Kamis (6/12/2018), untuk kali pertama sejak krisis keuangan global 2007, imbal hasil obligasi AS bertenor lima tahun lebih rendah daripada yield surat utang berjangka waktu dua tahun. Hal yang sama terjadi dengan yield obligasi bertenor lima dan tiga tahun.

Sumber: CNBC Indonesia

Opini Riset HIMA AE:

Yield curve secara historis mencerminkan pengertian pasar tentang ekonomi, khususnya tentang inflasi. Investor yang berpikir inflasi akan meningkat akan menuntut hasil yang lebih tinggi untuk mengimbangi dampaknya. Sebuah kurva imbal hasil terbalik telah menjadi indikator yang dapat diandalkan dari kemerosotan ekonomi yang akan datang. Beberapa hal yang membuat kurva imbal hasil mendatar sekarang, antara lain The Fed yang terus menaikkan suku bunga serta perang dagang yang masih dikhawatirkan di kalangan pelaku pasar. Dampak resesi AS terhadap Indonesia yaitu investor akan meningkatkan aset-aset

 safe haven, seperti dolar AS. Hal ini tentunya akan memperlemah rupiah. Kemudian, tingginya permintaan aset-aset safe haven dapat menyedot likuiditas dari pasar negara berkembang. Dan juga hal ini berdampak pada ekspor Indonesia seiring dengan melambatnya pertumbuhan AS.

REKOMENDASI SAHAM

Pada perdagangan kemarin (Kamis, 06 Desember 2018), PGAS ditutup menguat sebesar +3.88% sebesar 80 poin menuju level 2140. Dari segi Analisa teknikal candle saham PGAS telah breakout di MA 5 dan MA 20. Hal ini didukung oleh indikator MACD yang membentuk Golden Cross atau Sinyal Beli dan indikator Stochastic yang bergerak menguat. Kami memprediksi saham PGAS akan mengalami penguatan.

Rekomendasi    : Buy

Target Price        : 2305

Stop Loss             : 1985

DISCLAIMER ON

Create By : Research HIMA AE

Khotimah

Dwi Saputri

Cindy Alicia

Hari Setiawan

M. Yusuf Alfikri

Muh. Fauzan Arlan

Putri Devy Andriyani

Ahmad Ali Ramadhan

Bella Ainun Gustiandini

Post By : Bella Indah Rahayu

Witaningsih

11 thoughts on “MENTARI PAGI EDISI 460, JUMAT 07 DESEMBER 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *